Tahukah Anda? Transaksi Non-Tunai Kaltim Capai 55 Persen, Tertinggi di Kalimantan!

Provinsi Kalimantan Timur memimpin adopsi pembayaran digital di Kalimantan. Transaksi Non-Tunai Kaltim mencapai 55%, menjadi yang tertinggi, didorong oleh QRIS dan sinergi kuat antar lembaga.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Transaksi Non-Tunai Kaltim Capai 55 Persen, Tertinggi di Kalimantan!
Provinsi Kalimantan Timur memimpin adopsi pembayaran digital di Kalimantan. Transaksi Non-Tunai Kaltim mencapai 55%, menjadi yang tertinggi, didorong oleh QRIS dan sinergi kuat antar lembaga. (AntaraNews)

Kalimantan Timur kini menjadi provinsi terdepan dalam adopsi pembayaran digital di Pulau Kalimantan. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengungkapkan capaian signifikan ini pada Jumat lalu di Samarinda. Fakta ini menunjukkan komitmen Kaltim terhadap modernisasi sistem pembayaran.

Provinsi ini berhasil mencatat 55 persen dari total transaksi digital di seluruh Kalimantan. Angka tersebut menempatkan Kaltim pada posisi tertinggi dalam pemanfaatan transaksi non-tunai. Hal ini menandakan kemajuan pesat dalam ekosistem ekonomi digital lokal.

Peningkatan ini didorong oleh tingginya volume transaksi digital yang terjadi di wilayah tersebut. Khususnya, penggunaan QRIS telah berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ini. Sinergi kuat antara berbagai lembaga turut mempercepat adopsi pembayaran non-tunai di Bumi Etam.

Pertumbuhan Pesat Transaksi Digital di Kalimantan Timur

Hingga pertengahan tahun 2025, nilai transaksi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di Kalimantan Timur telah mencapai Rp5,92 triliun. Angka ini menunjukkan peran signifikan Kaltim dalam ekosistem ekonomi digital di kawasan Kalimantan. Perkembangan ini sangat membantu percepatan transaksi di sektor ritel.

Budi Widihartanto menegaskan dominasi Kaltim dalam pembayaran digital di Kalimantan. "Bisa dibayangkan, 45 persen sisanya itu baru tersebar di wilayah Kalimantan lainnya. Jadi kita ini termasuk yang paling tinggi untuk transaksi non-tunai," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi posisi unggul Kaltim.

Tren pembayaran non-tunai di Kaltim terus mengalami lonjakan signifikan dari waktu ke waktu. "Pembayaran non-tunai terus kita kembangkan di Bumi Etam. Alhamdulillah, perkembangannya terus di atas 100 persen, bahkan sempat mencapai 300 persen," jelas Budi. Ini menunjukkan adopsi yang luar biasa di masyarakat.

Sinergi Kuat Penggerak Ekosistem Pembayaran Non-Tunai

Keberhasilan Kalimantan Timur tidak lepas dari sinergi yang solid antar berbagai pihak terkait. Budi Widihartanto mengapresiasi kerja sama antara Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta perbankan dan pelaku sistem pembayaran di Kaltim. Sinergi ini terus memperkuat ekosistem transaksi digital.

Hasil dari sinergi ini terlihat jelas di lapangan. Baik dari sisi pengguna maupun merchant, kini sudah terbiasa menggunakan QRIS dan Electronic Data Capture (EDC) dalam transaksi sehari-hari. Kemudahan ini mempermudah masyarakat dan pelaku usaha dalam melakukan pembayaran non-tunai.

Budi menambahkan bahwa kerja sama yang kompak menjadi kunci utama. "Alhamdulillah, kerja sama antara BI, OJK, dan teman-teman dari perbankan maupun pelaku sistem pembayaran sangat baik dan kompak," ungkapnya. Kolaborasi ini memastikan pengembangan pembayaran non-tunai berjalan efektif dan berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi