PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan berhasil mencatatkan peningkatan signifikan dalam Produksi Minyak PHR. Perusahaan ini sukses menambah 9.046 barel minyak per hari dari pengembangan lapangan di Provinsi Riau. Peningkatan ini dicapai melalui pemanfaatan teknologi inovatif pada sumur-sumur dengan kualitas reservoir rendah.
General Manager PT PHR, Andre Widjanarko, menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari upaya masif sejak alih kelola pada tahun 2021. Sebanyak 376 sumur telah dikembangkan hingga Agustus 2025, berkontribusi pada lonjakan produksi tersebut. Langkah strategis ini diambil untuk mengoptimalkan potensi sumber daya minyak yang sulit dijangkau.
Pengembangan sumur "low quality reservoir" (LQR) menjadi fokus utama PHR karena karakteristik batuan yang sulit mengalirkan minyak. Teknologi khusus diperlukan untuk mengatasi tantangan ini. Keberhasilan ini menunjukkan komitmen PHR dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Advertisement
Advertisement
Pengembangan lapangan dengan batuan minyak kualitas rendah (LQR) memerlukan pendekatan teknologi yang berbeda. Batuan ini memiliki sifat yang menyulitkan aliran minyak secara alami. Oleh karena itu, PHR mengimplementasikan berbagai metode pemboran canggih.
Andre Widjanarko menekankan bahwa teknologi adalah kunci dalam mengatasi tantangan ini. "Pengembangan LQR untuk batuan yang sifatnya susah mengalir. Yang mengalir kecil ini diperlukan teknologi," katanya di Pekanbaru, Jumat. Pemboran vertikal, horizontal, dan teknik fracturing menjadi andalan.
Metode "fracturing" bekerja dengan memecahkan batuan di dalam sumur. Proses ini menciptakan rekahan atau pecahan yang berfungsi sebagai jalur baru bagi minyak. Dengan demikian, minyak dapat mengalir lebih mudah dan meningkatkan volume Produksi Minyak PHR.
Advertisement
Advertisement
PHR tidak hanya menerapkan fracturing biasa, tetapi juga "multi stage fracturing" horizontal. Teknik ini merupakan inovasi yang memungkinkan perekahan dilakukan hingga delapan tahap dalam satu sumur horizontal. Ini adalah terobosan penting dalam industri migas nasional.
Andre Widjanarko mengungkapkan bahwa teknologi "multi stage fracturing" ini belum pernah diterapkan di Indonesia sebelumnya. "'Kita lakukan 'multi stage' sampai ada delapan dalam satu horizontal. Ini belum ada di Indonesia dan sudah sukses di Amerika Serikat dan Amerika Selatan," ungkapnya. Keberanian PHR dalam mengadopsi teknologi ini patut diapresiasi.
Penerapan teknologi canggih ini bertujuan untuk menahan laju penurunan produksi alami di Wilayah Kerja Rokan. Sejak alih kelola dari Chevron Pacific Indonesia pada tahun 2021, PHR telah membor sekitar 1.800 sumur baru. Upaya ini krusial untuk menjaga stabilitas pasokan minyak.
Advertisement
Advertisement
Produksi minyak secara alami akan mengalami penurunan jika tidak ada aktivitas pengeboran masif. "Produksi secara natural akan menurun, 35-40 persen kalau tidak ada aktivitas yang masif," sebut Andre Widjanarko. Tanpa intervensi, penurunan bisa mencapai angka yang signifikan.
Sejak tahun 2021, PHR berhasil mempertahankan produksi di angka 150 ribu hingga 160 ribu barel per hari. Saat ini, Produksi Minyak PHR berada di kisaran 152 ribu barel per hari. Angka ini menunjukkan kontribusi signifikan perusahaan dalam menjaga pasokan energi.
Kontribusi PHR terhadap produksi nasional sangat besar, mencapai 26 persen dari total produksi minyak Indonesia. Peningkatan produksi dari lapangan kualitas rendah ini semakin memperkuat posisi PHR. Ini adalah bukti nyata komitmen PHR dalam mendukung ketahanan energi negara.
Advertisement
Sumber: AntaraNews