Jumlah Tunawisma di Los Angeles Turun, Tapi Dana Triliunan Justru Bikin Masalah Baru

Tingkat tunawisma di Los Angeles berkat program yang dinamakan Inside Safe.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Jumlah Tunawisma di Los Angeles Turun, Tapi Dana Triliunan Justru Bikin Masalah Baru
Jumlah Tunawisma di Los Angeles Turun, Tapi Dana Triliunan Justru Bikin Masalah Baru (Merdeka.com)

Setelah puluhan tahun menghadapi krisis tunawisma yang tak kunjung reda, wilayah Los Angeles akhirnya menunjukkan sinyal perbaikan. Dilansir dari Bloomberg, jumlah tunawisma di wilayah ini menurun 4% dari tahun sebelumnya, menjadi sekitar 72.308 orang, menurut data terbaru dari LAHSA. Di Kota Los Angeles, angka tunawisma juga turun 3,4%, dengan penurunan paling besar terjadi pada tunawisma yang tinggal di jalanan sebesar 7,9%.

Wali Kota Karen Bass menyebutkan bahwa program “Inside Safe” yang menempatkan tunawisma ke hotel dan motel jadi kunci keberhasilan. Namun, Bass juga mengakui tantangan besar yang masih tersisa. “Apakah mengurangi tunawisma dengan menempatkan mereka di motel masih sangat mahal? Ya. Tapi semua ini merupakan langkah maju,” ujarnya.

Secara nasional, tunawisma meningkat 18% antara 2023 dan 2024, dengan keluarga dan anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak. California mencatat kenaikan 3%, meskipun menjadi negara bagian dengan program penanganan paling agresif.

Di tengah usaha keras tersebut, New York masih memegang rekor kota dengan jumlah tunawisma tertinggi, terutama karena mahalnya biaya hidup, penggusuran, dan masuknya pencari suaka.

Los Angeles sendiri telah melakukan berbagai inisiatif, termasuk Proposisi HHH (2016) yang telah membangun lebih dari 8.300 unit perumahan, dan Measure ULA (2023), pajak atas properti mewah di atas USD5 juta. Namun, realisasinya jauh dari target: pendapatan pajak yang dijanjikan USD1,1 miliar per tahun, hanya terkumpul sekitar USD288 juta. Pasar properti pun melambat, menghambat konstruksi dan pengembangan perumahan baru.

Gubernur Gavin Newsom menambahkan upaya dengan investasi lebih dari USD37 miliar untuk mengatasi tunawisma sejak 2019, meskipun populasi tunawisma justru naik 24% dalam kurun waktu tersebut. Ia juga mendorong sistem baru yang memungkinkan perintah perawatan wajib bagi penderita gangguan mental parah, meski mendapat kritik dari kelompok HAM.

Data LAHSA dikumpulkan oleh ribuan sukarelawan yang menyisir wilayah seluas 6.800 km² dalam tiga hari, menghitung individu, tenda, kendaraan, dan tempat penampungan, serta melakukan survei demografi langsung.

Meski belum ideal, langkah ini menunjukkan bahwa dengan kebijakan yang tepat, tunawisma bukan masalah yang mustahil diatasi hanya perlu ketekunan, transparansi, dan efisiensi dalam penggunaan dana publik.

Rekomendasi