Kementerian ESDM Buka Peluang Penyesuaian Harga LNG untuk Industri

Akibat lonjakan harga minyak mentah global, Kementerian ESDM memberikan kesempatan untuk menyesuaikan harga gas alam cair (LNG) bagi industri.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Kementerian ESDM Buka Peluang Penyesuaian Harga LNG untuk Industri
Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Laode Sulaeman ketika membuka acara Sosialisasi Transformasi Subsidi LPG 3 Kg Tepat Sasaran Tahap III di Jakarta, Senin (8/5/2023). (© 2026 Liputan6.com)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan kesempatan untuk melakukan penyesuaian harga gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) bagi sektor industri. Langkah ini diambil setelah terjadinya lonjakan harga LNG yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Dir

ktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa kenaikan harga LNG di dalam negeri mengikuti pergerakan harga minyak mentah global secara berkala.

"Harga ini dipengaruhi kenaikan crude (minyak mentah) dan dinamika global. Formula LNG memang terkait dengan kenaikan crude global," kata Laode di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (26/6/2026).

Laode menegaskan bahwa kenaikan harga LNG ini memiliki skema yang berbeda dibandingkan dengan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk gas pipa yang selama ini diterima oleh sejumlah sektor industri. Menurutnya, lonjakan harga LNG baru-baru ini secara otomatis meningkatkan beban biaya operasional industri secara signifikan. Meskipun demikian, ia enggan mengungkapkan secara rinci besaran selisih kenaikan harga tersebut.

"Saya tidak ingin menyebut angkanya, tetapi intinya memberatkan bagi industrinya," ujar Laode menambahkan. Walaupun saat ini pasar sedang tertekan, Laode meyakini harga LNG masih berpotensi untuk melandai atau turun kembali jika kondisi pasar energi global semakin kondusif.

Sebagai langkah cepat, pemerintah melalui arahan Menteri ESDM telah diminta untuk segera membahas kemungkinan penyesuaian harga tersebut bersama PT PGN Tbk selaku distributor dan para pelaku usaha di sektor hulu. Upaya ini diharapkan dapat meringankan beban industri yang terdampak oleh fluktuasi harga LNG yang tinggi. Dengan demikian, diharapkan sektor industri dapat tetap beroperasi secara efektif meskipun dalam kondisi pasar yang tidak menentu.

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, segera menghubungi Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, setelah menerima keluhan dari buruh mengenai tingginya harga gas industri. Keluhan ini dianggap mengancam kelangsungan usaha dan berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para pekerja.

Masalah ini dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang berlangsung di Jakarta pada Selasa, 23 Juni 2026. Buruh mengungkapkan bahwa mahalnya harga gas industri dapat berdampak pada PHK sekitar 55 ribu pekerja di sektor industri keramik yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat.

Insiden ini terjadi tepat ketika Dasco hendak memberikan sambutan dalam acara tersebut. Sebelum memulai pidatonya, ia langsung menelepon Simon Aloysius Mantiri di hadapan semua peserta Rakernas.

"Halo, Pak Dirut Pertamina. Ini saya lagi di Rakernas KSPI. Saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Jadi ini saya tadi sudah rancang pidato, cuma buyar semua nih gara-gara soal gas. Jadi pertama-tama sebelum pidato saya mau tanya dulu bagaimana nih soal gas industri, apakah ada jalan keluar?" tanya Dasco sambil mengarahkan telepon genggamnya ke mikrofon.

Saat ini, harga gas industri dilaporkan oleh serikat pekerja mencapai sekitar US$ 23 per MMBTU. Jumlah tersebut sangat jauh melebihi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar US$ 6 per MMBTU untuk sektor industri tertentu.

"Jadi begini Pak Simon, dalam beberapa hari ini sudah ada ancaman PHK. Jadi mungkin kita juga mesti cari jalan keluar atau kemudian yang dalam waktu dekat PHK ini juga harus kita mitigasi," ungkap Dasco. Ia juga mendorong Pertamina dan pihak terkait untuk segera berkumpul dengan perwakilan serikat pekerja guna mencari solusi yang tepat.

Dasco menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi situasi ini.

"Nah mungkin kita bisa duduk sehari dua hari ini juga dengan perwakilan dari teman-teman buruh, satu atau dua asosiasi nanti supaya kita bisa cari jalan keluar," katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa dialog antara pihak-pihak terkait sangat diperlukan untuk menemukan jalan keluar yang saling menguntungkan. Dengan adanya komunikasi yang baik, diharapkan masalah yang ada dapat diatasi tanpa harus mengorbankan tenaga kerja yang ada.

Rekomendasi