Majalah bisnis internasional Forbes baru saja merilis daftar orang terkaya di Indonesia per Mei 2025.
Dalam daftar tersebut, muncul nama Low Tuck Kwong dengan kekayaan mencapai USD 27,7 miliar atau sekitar Rp454 triliun.
Low Tuck Kwong adalah sosok yang tak asing di dunia bisnis Indonesia, dikenal luas sebagai orang terkaya di negeri ini. Sering dijuluki sebagai 'Raja Batu Bara', perjalanan kariernya mencerminkan dedikasi dan visi yang luar biasa. Lahir di Singapura, Low telah menempuh perjalanan panjang sejak awal kariernya hingga menjadi pengusaha sukses yang diakui secara internasional.
Informasi mengenai tahun kelahiran Low Tuck Kwong masih menjadi perdebatan di kalangan sumber-sumber yang ada. Beberapa menyebutkan bahwa ia lahir pada 17 April 1948, sementara yang lain mencatat tahun 1958. Perbedaan ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Low mengawali hidupnya di Singapura, di mana ia lahir dari pasangan David Low Nyi Ngo, seorang direktur dan pemilik perusahaan konstruksi. Ayahnya bermigrasi dari Guangzhou, China ke Singapura ketika Low berusia tiga tahun dan mendirikan perusahaan konstruksi bernama Sum Cheong. Dari sinilah, Low mulai membangun fondasi kariernya dalam industri konstruksi.
Advertisement
Awal Karier dan Perpindahan ke Indonesia
Low Tuck Kwong memulai kariernya di perusahaan ayahnya pada usia 20 tahun. Namun, ia merasa perlu mencari peluang bisnis yang lebih besar dan lebih menjanjikan. Pada tahun 1972 atau 1973, Low memutuskan untuk pindah ke Indonesia, di mana ia melihat potensi besar dalam industri konstruksi dan pertambangan.
Pada tahun 1973, ia mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI), yang bergerak di bidang pekerjaan tanah, sipil, dan struktur kelautan. Di bawah kepemimpinannya, JSI tumbuh menjadi salah satu kontraktor terkemuka di Indonesia pada era 1980-an dan 1990-an, khususnya dalam proyek-proyek fondasi tumpuk yang kompleks.
Advertisement
Perjalanan di Industri Batu Bara
Low Tuck Kwong memasuki industri batu bara pada tahun 1988, dimulai sebagai kontraktor tambang. Langkah strategisnya terwujud ketika ia mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP) dan PT Dermaga Perkasapratama (DPP) pada tahun 1998. Dari akuisisi ini, ia mengembangkan perusahaan menjadi Bayan Resources, yang kini dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang batu bara terintegrasi vertikal yang paling sukses di Indonesia.
Bayan Resources telah mengalami pertumbuhan signifikan dalam produksi batu bara dan memiliki infrastruktur yang unggul, termasuk Terminal Batu Bara Balikpapan. Perusahaan ini terus berinovasi dalam metode dan teknologi untuk mempertahankan posisi sebagai produsen batu bara berbiaya rendah. Pada tahun 2008, Bayan Resources resmi go public, semakin memperkuat posisinya di pasar.
Advertisement
Diversifikasi Bisnis dan Kekayaan
Selain sukses di industri batu bara, Low Tuck Kwong juga mengembangkan bisnis di berbagai sektor lainnya, seperti konstruksi, energi terbarukan, telekomunikasi, hospitality, dan kebun binatang. Diversifikasi ini menunjukkan kemampuan Low dalam melihat peluang di berbagai bidang, yang pada gilirannya berkontribusi pada peningkatan kekayaannya.
Menurut Forbes, Low Tuck Kwong secara konsisten menempati peringkat sebagai orang terkaya di Indonesia. Angka kekayaannya bervariasi dalam laporan yang berbeda, berkisar antara puluhan hingga ratusan triliun rupiah, tergantung pada kurs yang berlaku. Hal ini mencerminkan dampak besar yang ia miliki di dunia bisnis Indonesia.
Advertisement
Filantropi dan Kerja Sama Bisnis
Low Tuck Kwong tidak hanya dikenal sebagai pengusaha, tetapi juga sebagai seorang filantropis yang peduli terhadap kesejahteraan hewan di Indonesia. Keterlibatannya dalam kegiatan sosial menunjukkan bahwa kekayaan yang dimilikinya tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk membantu masyarakat.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Low pernah bekerja sama dengan Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, dalam berbagai proyek bisnis. Kerja sama ini semakin menegaskan reputasi dan jaringan Low di dunia bisnis Indonesia.