Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, baru-baru ini mengidentifikasi tiga tantangan krusial yang harus dihadapi sektor pariwisata setempat. Pernyataan ini disampaikan dalam upaya memperkuat konsep pariwisata berkelanjutan di wilayah tersebut.
Identifikasi tantangan ini disampaikan oleh Lalu Muhamad Iqbal saat menerima kunjungan silaturahmi dari 11 perwakilan panitia Rinjani Travel Mart (RTM). Pertemuan penting ini berlangsung di Mataram pada Sabtu (13/9) lalu, dengan informasi yang dirilis melalui keterangan tertulis.
Tiga isu utama yang diungkapkan Gubernur NTB tersebut menjadi fokus perhatian bersama untuk memastikan pertumbuhan pariwisata yang stabil dan berkualitas. Langkah ini diharapkan dapat menjaga reputasi destinasi internasional serta memberdayakan ekonomi masyarakat lokal.
Advertisement
Advertisement
Tantangan pertama yang disoroti oleh Gubernur Iqbal adalah masalah pengelolaan lingkungan, khususnya penanganan sampah di kawasan strategis. Destinasi seperti Mandalika, yang merupakan ikon pariwisata internasional, memerlukan sistem kebersihan yang profesional dan terstandar.
Gubernur Iqbal menegaskan bahwa pariwisata tidak boleh tumpang tindih dengan isu kebersihan. "Pariwisata tidak boleh tumpang tindih dengan urusan kebersihan. Kita menghadapi tantangan sistem pengelolaan sampah yang belum standar," ujarnya.
Beliau menambahkan, "Ada limbah atau waste tapi belum ada manajemen-nya." Pernyataan ini menggarisbawahi perlunya inovasi dan investasi dalam sistem pengelolaan limbah yang efektif untuk mendukung citra pariwisata NTB yang bersih dan menarik.
Advertisement
Advertisement
Tantangan kedua yang diungkapkan Miq Iqbal, sapaan akrab Gubernur, berkaitan dengan daya saing ekonomi lokal. Isu ini mencakup tingginya harga hotel di kawasan Mandalika yang dapat mencapai Rp3 juta per malam, serta persaingan ketat dengan platform penjualan daring.
Gubernur menekankan pentingnya proteksi terhadap pelaku usaha lokal di tengah gempuran digitalisasi. "Sejarah pariwisata berubah. Tidak hanya pemberdayaan (empowerment) tapi juga proteksi, termasuk tantangan digitalisasi seperti penjualan online lewat Traveloka," terangnya.
Perlindungan ini menjadi krusial agar usaha-usaha lokal dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan global. Strategi adaptasi dan inovasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan keberlanjutan ekonomi masyarakat setempat.
Advertisement
Advertisement
Tantangan ketiga adalah perlunya mendorong penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta desa wisata lokal. Gubernur Iqbal melihat kegiatan seperti pameran, tur wisata gratis ke Desa Merese, dan workshop sebagai sarana efektif.
Beliau juga menyebutkan forum kolaborasi internasional di Kuala Lumpur sebagai upaya untuk memperluas jangkauan produk lokal. "Harapannya bisa menjadi momentum untuk memperluas peluang bagi produk lokal kita agar lebih kompetitif," tandas Miq Iqbal.
Dukungan terhadap penyelenggaraan Rinjani Travel Mart (RTM) 2025 menjadi bukti komitmen Gubernur. Kegiatan RTM ini dianggap sebagai ajang strategis untuk memperkuat pariwisata berkelanjutan dan mengatasi berbagai Tantangan Pariwisata NTB.
Advertisement
RTM sendiri dijadwalkan berlangsung pada 10-12 Oktober 2025 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah. Acara ini akan melibatkan berbagai pihak seperti hotel, desa wisata, dan operator pariwisata, serta menawarkan tur gratis ke destinasi sekitar Mandalika.
Sumber: AntaraNews