Di era modern, merancang kota untuk masa depan bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi telah menjadi tantangan yang membawa inovasi ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai perusahaan dan arsitek visioner berlomba-lomba menciptakan konsep kota futuristis yang menantang batas imajinasi. Dari kota terapung hingga permukiman di luar angkasa, gagasan-gagasan revolusioner ini terus bermunculan.
Di kota-kota masa depan ini, infrastruktur hijau dan teknologi pintar bukan lagi sekadar impian, tetapi bagian tak terpisahkan dari perencanaannya. Beberapa konsep bahkan mencakup inovasi yang belum sepenuhnya terwujud, seperti taksi terbang dan mobil AI dengan kemampuan otonom tingkat tinggi.
Namun, tak ada salahnya bermimpi besar, bukan? Dengan semangat inilah Architectural Digest (AD) merangkum lima proyek kota futuristis paling menarik yang sedang dibangun di berbagai belahan dunia.
Melansir dari Admiddlest berikut adalah daftar kota futuristis yang sedang dalam tahap pembangunan:
Advertisement
1. Smart Forest City, Meksiko, Kota Hijau Masa Depan
Arsitek Italia terkenal, Stefano Boeri, memperkenalkan Smart Forest City pada tahun 2019. Kota ini dirancang sebagai pusat metropolitan ramah lingkungan yang berlokasi dekat Cancún, Meksiko. Dengan 7,5 juta tanaman yang akan memenuhi kota ini, konsepnya menggabungkan warisan budaya suku Maya dengan inovasi teknologi hijau.
Menurut Boeri, keseimbangan antara ruang hijau dan area pembangunan akan menjadi prioritas utama. Atap dan fasad bangunan akan ditutupi tanaman hijau, sementara kebun-kebun pribadi dan taman publik akan menjadi jantung kota.
Lebih dari sekadar estetika, pengumpulan data juga menjadi bagian penting dari perencanaannya, digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk melalui sistem tata kelola berbasis teknologi cerdas.
Advertisement
2. Telosa, Amerika Serikat, Kota Masa Depan Berbasis Kesejahteraan Bersama
Didukung oleh miliarder Marc Lore, Telosa dirancang untuk menjadi kota percontohan di Amerika Serikat yang menetapkan standar baru dalam kehidupan perkotaan. Tujuan utamanya adalah menciptakan kota berkelanjutan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberdayakan warganya.
Meskipun lokasi pastinya belum ditentukan, Telosa dirancang untuk mengutamakan pejalan kaki dan pengendara sepeda, dengan hanya sedikit kendaraan otonom berkecepatan rendah yang diizinkan beroperasi. Kota ini juga akan mengandalkan energi terbarukan dan menerapkan sistem pengelolaan air yang canggih, memungkinkan penyimpanan, pemurnian, dan penggunaan kembali air di dalam kota.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, Telosa mengusung konsep equitisme, sistem ekonomi di mana warga memiliki saham atas tanah kota, memungkinkan mereka mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan. Proyek ini menargetkan populasi sebesar 5 juta orang pada tahun 2050.
Advertisement
3. The Line, Arab Saudi, Kota Tanpa Jalan
Salah satu proyek paling ambisius di dunia, The Line, pertama kali diperkenalkan pada tahun 2017 sebagai bagian dari rencana besar NEOM, inisiatif Arab Saudi untuk menciptakan kota masa depan yang bebas polusi dan ramah lingkungan.
Kota ini dirancang sebagai jalur perkotaan sepanjang 150 kilometer tanpa jalan raya, mobil, atau polusi. Dengan konsep vertikal yang mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu struktur panjang, The Line akan menghubungkan masyarakat dengan teknologi cerdas yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup.
Meskipun konstruksi telah dimulai, proyek ini menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kendala keuangan dan kompleksitas desain. Modul pertama The Line direncanakan mulai beroperasi pada 2026, sementara keseluruhan proyek ditargetkan selesai pada tahun 2030. Namun, sejauh mana bagian kota ini dapat benar-benar terwujud masih menjadi tanda tanya besar.
Advertisement
4. Oceanix Busan, Korea Selatan, Kota Terapung Pertama di Dunia
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut, konsep kota terapung menjadi semakin relevan. Salah satu proyek yang paling menjanjikan adalah Oceanix Busan, yang dirancang oleh Bjarke Ingels Group dan SAMOO.
Busan, sebagai kota pesisir utama di Korea Selatan, menandatangani kontrak untuk membangun prototipe pertama proyek ini, yang diserahkan ke PBB pada April 2022. Kota ini akan dibangun menggunakan biorock, material inovatif yang dapat memperbaiki diri sendiri, menjadikannya solusi ideal untuk komunitas pesisir yang rentan terhadap bencana alam. Jika sukses, Oceanix Busan akan menjadi model bagi kota-kota terapung lainnya di masa depan.
Advertisement
5. Chengdu Sky Valley, Tiongkok, Kota yang Menghormati Tradisi dan Alam
Dibangun oleh firma arsitektur MVRDV, Chengdu Sky Valley dirancang sebagai bagian dari kompetisi Future Science and Technology City. Kota ini bertujuan untuk menggabungkan kehidupan modern dengan kelestarian budaya dan lingkungan.
Berbeda dengan kota futuristis lainnya yang mengandalkan gedung pencakar langit dan teknologi tinggi, Chengdu Sky Valley mengadopsi pendekatan yang lebih alami. Bangunan baru akan dikelompokkan di perbukitan, sementara kawasan pertanian tradisional akan dilestarikan. Penduduk diberi kebebasan untuk membangun sendiri rumah mereka dan menciptakan gaya hidup yang lebih mandiri, selaras dengan alam.
Meskipun proyek ini belum berjalan, konsepnya menarik perhatian karena menawarkan keseimbangan antara inovasi dan tradisi, membuktikan bahwa masa depan tidak selalu harus tentang modernisasi penuh, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa mempertahankan warisan budaya dan lingkungan.