Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Purbasari mengatakan, banyak pekerja di Indonesia pada usia 30-40 tahun sulit beradaptasi pada perubahan. Sebab, setelah mereka lulus perguruan tinggi di usia 22 tahun, tidak didukung dengan pendidikan lanjutan sehingga keterampilan mereka tidak berkembang.
"Di sepanjang umur tersebut (18-64 tahun), kita melihat bahwa kerentanan-kerentanan terjadi. Ada distruptions, dan kemudian ada sekelompok pekerja yang terdampak oleh distruptions tersebut dan kesulitan untuk beradaptasi, terutama adalah pekerja-pekerja di usia pertengahan 30 hingga 40 tahun," kata Denni dalam konferensi pers Inclusive Lifelong Learning Conference di Bali, Senin (3/7).
Oleh karena itu, Program Kartu Prakerja hadir untuk meningkatkan skill dan produktivitas angkatan kerja, berupa bantuan biaya pelatihan secara langsung kepada peserta dan insentif pasca pelatihan dengan ragam pelatihan skilling, reskilling, dan upskilling.
"Mereka skillnya sudah cukup usang karena mereka selesai perguruan tinggi di usia 22 tahun, tapi kemudian bagaimana kita memberikan kesempatan buat mereka untuk mengupdate diri sehingga kemudian tidak stagnan skillnya dan mereka kemudian bisa tetap bekerja bahkan lebih produktif hingga usia pensiunnya," ungkapnya.
Adanya program Kartu Prakerja ini bertujuan agar penduduk yang berusia tua masih bisa produktif dan tidak membebani generasi muda dibawahnya. "Setelah pensiun masih ada usia produktif untuk terus melakukan upaya supaya kemudian tidak menjadi beban bagi generasi di bawahnya. Karena itu Prakerja hadir dan kita telah melihat hasilnya," ujar Denni.
Atas dasar tersebut, Kementerian Koordinator bidang Perekonomian melalui Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menyelenggarakan bersama UIL (The UNESCO Institute for Lifelong Learning), sekaligus meluncurkan Kampanye #ImALifelongLearner.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, belajar sepanjang hidup merupakan hal yang sangat penting, baik bagi individu maupun bagi masyarakat secara keseluruhan.
Airlangga menegaskan, belajar sepanjang hidup "Inclusive Lifelong Learning" berfungsi sebagai alat yang ampuh dalam memberdayakan individu di seluruh dunia untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang, termasuk perubahan iklim, pergeseran demografis, volatilitas pasar tenaga kerja, dan banyak lagi.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com