Sri Mulyani Cerita Utang Amerika Serikat Membengkak Akibat Pandemi Covid-19

Sejak tahun 2018, rasio utang Pemerintah AS juga terus mengalami peningkatan. Kala itu, rasio utang AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 107,4 persen.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Sri Mulyani Cerita Utang Amerika Serikat Membengkak Akibat Pandemi Covid-19
Sri Mulyani. ©2018 Merdeka.com

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa hampir semua negara mengalami defisit ketika menghadapi pandemi Covid-19. Tak terkecuali Pemerintah Amerika Serikat yang pada tahun 2020 defisit fiskalnya mencapai -14 persen dari sebelumnya di tahun 2018 defisit -6,4 persen.

"Amerika Serikat dengan kemampuan mereka mencetak utang dalam jumlah besar dan pembelinya seluruh dunia ini, mereka bisa mencapai defisit minus 14 persen," kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja Pemerintah dengan Badan Anggaran DPR RI, Jakarta, Selasa (30/5).

Sejak tahun 2018, rasio utang Pemerintah AS juga terus mengalami peningkatan. Kala itu, rasio utang AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 107,4 persen.

Saat terjadi pandemi tahun 2020, rasio utang Pemerintah AS meningkat menjadi 133,5 persen terhadap PDB. Kemudian di tahun 2022, rasio utang AS melandai menjadi 121,7 persen terhadap PDB.

Defisit fiskal AS di tahun 2022 juga mengalami penurunan menjadi -5,5 persen. Sayangnya dalam kondisi tersebut, Pemerintah AS hampir mengalami gagal bayar utang.

"Amerika saat ini menghadapi defisit minus 5,5 dan tapi Pak Ketua (Banggar, Said Abdullah) sampaikan mereka mengalami kondisi politik, apakah cap atau batas atas dari jumlah utang bisa dinaikkan," kata Sri Mulyani.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, dalam kondisi serupa di tahun 2011 Amerika Serikat memutuskan menaikkan plafon utang. Sementara saat ini keputusan yang diambil menangguhkan pembayaran utang sampai 1 Januari 2025 mendatang.

Akibatnya kata Sri Mulyani, kalau batas batas utang tidak dinaikkan, Negara Paman Sam itu diperkirakan akan kembali melakukan konsolidasi yang lebih agresif.

"Kalau tidak mereka harus melakukan konsolidasi yang agresif," katanya.

Rekomendasi