Jejak Transmart, Akuisisi Carrefour Hingga Diterjang Penutupan Sejumlah Gerai

Ritel modern Transmart mengalami gempuran hebat saat sejumlah gerai ditutup. Kondisi tersebut cukup kontras jika melihat perjalanan Transmart yang mengalami masa kejayaannya saat mengakuisisi ritel multinasional asal Prancis, Carrefour.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Jejak Transmart, Akuisisi Carrefour Hingga Diterjang Penutupan Sejumlah Gerai
Transmart. Siti Ayu Rahma ©2023 Merdeka.com

Ritel modern Transmart mengalami gempuran hebat saat sejumlah gerai ditutup. Kondisi tersebut cukup kontras jika melihat perjalanan Transmart yang mengalami masa kejayaannya saat mengakuisisi ritel multinasional asal Prancis, Carrefour.

Ritel Carrefour Indonesia pertama, berhasil didirikan pada tahun 1998, di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Didirikannya Carrefour di Indonesia setelah perusahaan induk Carrefour bermitra dengan PT Tigaraksa Satria dengan komposisi saham 70 persen untuk Carrefour dan 30 persen untuk PT Tigaraksa.

Perkembangan Carrefour saat itu cukup agresif hingga menambah cabang kedua di Jakarta. Keunggulan Carrefour saar itu harga yang murah. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2003, mitra Carrefour, PT Tigaraksa memutuskan kerjasama dengan menjual seluruh sahamnya kepada Carrefour. Keputusan ini dibuat karena dianggap tidak menguntungkan Tigaraksa.

Penguasaan pasar oleh Carrefour kemudian memunculkan dugaan monopolistik. Bahkan Carrefour sempat diadukan ke Komisi Pengawasn Persaingan Usaha (KPPU). Saling menggugat kemudian terjadi antara KPPU vs Carrefour.

Carrefour terus dihantam masalah, seperti insiden keracunan gas di rotel Carrefour Ratu Plaza, dan polemik-polemik lainnya. Tekanan itu kemudian membuat Carrefour menjalin kerjasama strategis dengan perusahaan milik Chairul Tanjung.

Pada tahun 2010, Chairul Tanjung berekspansi bisnis ritel dengan mengakuisisi saham Carrefour sebesar 40 persen dari keinginan perusahaan yaitu 100 persen. Proses akuisisi disahkan dengan penandatangan nota kesepahaman pembelian Carrefour oleh Chairul Tanjung, yang dilakukan di Prancis pada rahun 2010.

Pembelian 40 persen saham Carrefour oleh Chairul Tanjung menghabiskan biaya USD 300-400 juta, dengan pinjaman bank asing seperti Credit Suisse, ING Bank dan Citibank. Hanya bertahan 2 tahun, Carrefour memutuskan untuk menjual seluruh kepemilikan sahamnya, sebesar 60 persen, kepada Chairul Tanjung. Nilai transaksi saat itu mencapai USD750 juta.

Setelah menjadi pemilik 100 persen ritel Carrefour Indonesia, perusahaan CT, demikian nama populer Chairul Tanjung, melakukan diversifikasi atau penyesuaian nama seperti dihilangkannya nama Carrefour. Dari semula Transmart Carrefour menjadi Transmart.

Ritel Transmart di masa kejayaannya mendulang animo masyarakat karena menerapkan konsep one stop activity. Di mana, masyarakat dapat berbelanja, menikmati hiburan dengan ragam permainan yang disediakan, menonton film bioskop, hanya di satu tempat.

Saat ini, Transmart mengalami anomali iklim ritel selama Pandemi Covid-19, masyarakat beralih berbelanja secara online. Persaingan harga, dan strategi bisnis juga memicu lesunya Transmart untuk mendatangkan pengunjung sediakala.

Rekomendasi