PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), yang dikenal sebagai Harita Nickel, berhasil mencatatkan pendapatan yang impresif sebesar Rp17,1 triliun pada semester pertama tahun 2026. Pencapaian signifikan ini didukung oleh disiplin operasional yang ketat serta optimalisasi kapasitas produksi di seluruh lini bisnis perusahaan. Laporan keuangan ini mencakup periode yang berakhir pada 30 Juni 2026, menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika pasar global.
Direktur Keuangan Harita Nickel, Suparsin Darmo Liwan, menjelaskan bahwa perusahaan terus berupaya menjaga performa operasionalnya. Hal ini dilakukan meskipun industri nikel global menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah sepanjang paruh pertama tahun ini. Fokus utama tetap pada efisiensi dan keandalan operasional.
“Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap berfokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi. Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja penjualan di sejumlah segmen,” ujar Suparsin dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Advertisement
Advertisement
Strategi Harita Nickel Hadapi Tantangan Industri Nikel Global
Di tengah kondisi industri nikel global yang penuh gejolak, Harita Nickel tetap teguh pada komitmennya untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan. Perusahaan menyoroti pentingnya efisiensi operasional sebagai kunci utama dalam menghadapi fluktuasi pasar. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap aspek produksi berjalan dengan maksimal.
Suparsin Darmo Liwan menegaskan bahwa fokus perusahaan tidak hanya pada efisiensi, tetapi juga pada optimalisasi rantai nilai terintegrasi. Hal ini mencakup seluruh proses dari penambangan hingga pengolahan nikel. Penguatan praktik usaha yang bertanggung jawab juga menjadi prioritas untuk menjamin keberlanjutan bisnis.
Komitmen terhadap keandalan produksi dan dukungan terhadap pertumbuhan jangka panjang menjadi landasan strategi Harita Nickel. Dengan demikian, perusahaan berupaya menjaga pasokan yang stabil bagi pelanggan. Langkah-langkah ini penting untuk mempertahankan posisi kompetitif di pasar global yang dinamis.
Advertisement
Advertisement
Peningkatan Kinerja Operasional dan Ekspansi Produksi Harita Nickel
Secara operasional, peningkatan kinerja penjualan bijih nikel menjadi salah satu pilar utama yang menopang capaian pendapatan Harita Nickel. Penjualan bijih nikel pada semester I 2026 menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menandakan adanya pertumbuhan signifikan dalam aktivitas penambangan.
Peningkatan ini didukung oleh mulai beroperasinya fasilitas tambang baru PT Gane Tambang Sentosa (GTS) sejak kuartal III 2025. Selain itu, bertambahnya lini produksi pada fasilitas pirometalurgi PT Karunia Permai Sentosa (KPS) juga turut berkontribusi. Ekspansi ini secara langsung meningkatkan kapasitas produksi Harita Nickel.
Pada segmen pirometalurgi, penjualan feronikel menunjukkan peningkatan yang signifikan, terutama berkat peningkatan output dari tambahan lini produksi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik KPS. Sementara itu, penjualan produk High Pressure Acid Leach (HPAL) pada segmen hidrometalurgi dipengaruhi oleh jadwal pengiriman. Harita Nickel terus memperkuat daya saingnya melalui pengelolaan operasi terintegrasi dari penambangan hingga pengolahan nikel.
Advertisement
Optimalisasi kapasitas produksi secara bertahap di berbagai fasilitas diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas operasional. Langkah ini juga bertujuan untuk menjaga keandalan pasokan. Dengan demikian, Harita Nickel dapat memenuhi kebutuhan pelanggan secara konsisten dan efektif.
Advertisement
Komitmen Harita Nickel pada Keberlanjutan dan Dekarbonisasi
Di samping fokus pada peningkatan kinerja finansial dan operasional, Harita Nickel juga menunjukkan komitmen kuat terhadap aspek keberlanjutan. Perusahaan secara aktif mengembangkan sejumlah inisiatif dekarbonisasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari seluruh operasionalnya.
Salah satu inisiatif penting adalah pemanfaatan teknologi waste heat recovery di fasilitas HPAL. Teknologi ini dirancang untuk menghasilkan listrik hingga 50 MW. Proyek ini ditargetkan rampung pada kuartal IV 2026, yang akan secara signifikan mendukung kebutuhan energi perusahaan.
Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan Harita Nickel dalam mengintegrasikan praktik berkelanjutan ke dalam model bisnisnya. Melalui inovasi dan investasi pada teknologi ramah lingkungan, perusahaan berupaya mengurangi jejak karbonnya. Ini juga sejalan dengan tuntutan global terhadap industri pertambangan yang lebih bertanggung jawab.
Advertisement
Sumber: AntaraNews