Jumlah Penduduk Hingga Potensi Wisata Jadi Alasan Pemerintah Bangun KRL Jogja-Solo

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri mengatakan, dalam setahun KRL Jogja-Solo mampu mengangkut lebih dari 2 juta penumpang. Dia mengapresiasi masyarakat yang terus mendukung dan memanfaatkan hasil upaya pemerintah dalam menghadirkan transportasi berkelanjutan di kawasan aglomerasi Jogja-Solo

Rita
Oleh Rita - Reporter
Jumlah Penduduk Hingga Potensi Wisata Jadi Alasan Pemerintah Bangun KRL Jogja-Solo
Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri. ©2022 Merdeka.com

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Zulfikri mengatakan, dalam setahun KRL Jogja-Solo mampu mengangkut lebih dari 2 juta penumpang. Dia mengapresiasi masyarakat yang terus mendukung dan memanfaatkan hasil upaya pemerintah dalam menghadirkan transportasi berkelanjutan di kawasan aglomerasi Jogja-Solo.

"Kawasan aglomerasi Jogja-Solo dipilih menjadi kawasan di luar Jabodetabek yang memiliki jaringan kereta rel listrik. Selain pergerakan komuter dalam masyarakat kawasan ini yang cukup tinggi karena jumlah penduduknya kita ketahui cukup padat," kata Zulfikri, Senin (7/3).

Menurutnya, kawasan aglomerasi Jogja-Solo menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Misalnya, pada tahun 2019 tercatat di Kota Surakarta menerima kedatangan wisatawan sejumlah 5,3 juta wisatawan atau naik sekitar 12,3 persen dibandingkan tahun 2018.

Sementara kota Jogja menerima kunjungan 4,3 juta wisatawan pada tahun 2019 atau naik 6,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, moda transportasi jalan raya masih menjadi Primadona di kawasan ini.

Sebagai perbandingan pada tahun 2018 jumlah masyarakat Jogja, yang menggunakan moda angkutan jalan raya hampir sekitar 11,3 juta penumpang. Sedangkan di tahun yang sama penggunaan Kereta Api Prameks saat itu hanya berkisar 2,74 juta penumpang atau sekitar 20 persen dari pergerakan di Kawasan.

"Perbandingan yang sangat timpang ini mendorong pemerintah untuk terus melakukan peningkatan terhadap moda transportasi kereta api," ungkapnya.

Menurutnya, kereta merupakan moda transportasi yang cepat, ramah lingkungan, serta memiliki kapasitas angkut yang cukup tinggi. Karakteristik yang bersifat angkutan massal dan keunggulan-keunggulan dalam pengoperasiannya, menyebabkan angkutan kereta api cenderung lebih efektif dan efisien dalam hal konsumsi bahan bakar dan penggunaan ruang.

"Sehingga transportasi kereta api dirasa dapat mendukung keberlanjutan pembangunan dengan menekan jejak karbon dari gas emisi buang kendaraan," tandasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi