Kopi Kenangan baru saja masuk dalam daftar perusahaan unicorn di Indonesia. Seperti diketahui, status unicorn disematkan ke perusahaan rintisan atau startup yang mampu mencapai valuasi USD 1 miliar.
Kopi Kenangan, menjadi unicorn usai mengantongi pendanaan Seri C Tahap Pertama senilai USD 96 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Ini membuat valuasi Kopi Kenangan tembus USD 1 miliar.
Kopi Kenangan menjadi unicorn pertama di Asia Tenggara dari sektor makanan dan minuman. Selain Kopi Kenangan, sudah ada deretan startup di Indonesia yang meraih status Unicorn.
Berikut daftar 8 unicorn lain di Indonesia seperti dikutip dari beberapa sumber, termasuk laman kemenparekraf.go.id.
Advertisement
1. Gojek
Bernaung di bawah PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, Gojek menjadi startup Indonesia pertama yang berhasil menyandang gelar Unicorn. Perusahaan yang mulai pada Oktober 2010 oleh Nadiem Makarim ini juga telah berhasil mendapatkan suntikan dana dari beberapa investor terkemuka dunia.
Beberapa investor itu di antaranya Google, Sequoia Capital, Farallon Capital, Allianz, Astra International, Tencent, dan masih banyak lagi.
Awalnya, Gojek hanya fokus pada bidang transportasi; GoRide dan GoCar. Kemudian dengan perkembangan zaman, Gojek semakin melebarkan sayapnya dengan mengeluarkan lebih dari 20 layanan yang mempermudah para pengguna aplikasinya, seperti layanan GoFood, GoSend, GoMart, GoMassage, dan masih banyak lagi.
Selain itu, kesuksesan Gojek pun telah sampai ke beberapa negara tetangga Indonesia. Seperti Singapura, Vietnam, hingga Thailand.
Laporan CNBC Indonesia per Februari 2020, aplikasi Gojek telah diunduh lebih dari 170 juta pengguna.
Aplikasi yang telah menjadi keperluan sehari-hari masyarakat Indonesia ini pun juga telah berhasil mendapatkan gelar "Decacorn" - bagi startup yang telah memiliki nilai valuasi di atas USD 10 miliar, atau sekitar Rp 140 triliun.
2. Tokopedia
Dengan misi "pemerataan ekonomi secara digital", Tokopedia turut menjadi e-commerce asli Indonesia yang telah menyabet gelar Unicorn setelah Gojek.
Tokopedia, merupakan perusahaan rintisan yang didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada Februari 2009.
Startup Indonesia ini berhasil menyabet gelar Unicorn setelah mendapatkan suntikan dana dari Alibaba Group, sekitar USD 1,1 miliar pada 2017.
Tokopedia bahkan telah memiliki beberapa investor, seperti SoftBank Group, East Ventures, dan masih banyak lagi.
Nilai valuasi Tokopedia per Oktober 2020 kabarnya sudah berhasil mencapai sekitar Rp 111 triliun. Saat ini pengguna aktif Tokopedia lebih dari 100 juta pengguna setiap bulannya.
3. Traveloka
Kemenparekraf mengungkapkan, Traveloka menjadi travel startup pertama di Indonesia dan juga Asia Tenggara yang berhasil menjadi menyandang gelar Unicorn.
Keberhasilan start up yang berdiri pada Oktober 2012 ini melihat keberhasilan setelah mendapatkan investasi dari Expedia pada 2017 silam.
Awalnya, perusahaan yang didirikan oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang ini fokus pada bidang perjalanan dan pemesanan hotel.
Namun, saat ini Traveloka semakin berkembang pesat dengan memberikan berbagai layanan kebutuhan end-to-end bagi para wisatawan domestik dan internasional.
Layanan Traveloka bahkan sudah merambah hingga negara tetangga, seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, hingga Filipina.
Nilai valuasi Traveloka pun mencapai sekitar USD 3 miliar, dengan perkiraan jumlah unduh lebih dari 40 juta pengguna.
4. Bukalapak
Bukalapak, perusahaan yang berfokus pada perusahaan bidang e-commerce merupakan salah satu start up Indonesia yang berhasil menyabet gelar Unicorn.
Perusahaan yang didirikan oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Fajrin Rasyid ini dimulai pada awal 2010.
Gelar Unicorn didapatkan Bukalapak setelah mendapatkan investor besar; salah satunya Emtek Group dan 500 Startups.
Bukalapak juga berhasil menggandeng investor terkemuka, seperti Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund, QueensBridge Ventura Partners, dan masih banyak lagi.
Data dari laman Katadata mengungkapkan, nilai valuasi perusahaan Bukalapak dipercaya telah mencapai Rp35 triliun dan memiliki sekitar 92 juta pengguna di seluruh Indonesia.
Advertisement
5. OVO
OVO masuk ke dalam deretan startup Indonesia yang berhasil menyabet gelar Unicorn pada tahun 2019.
Aplikasi layanan dompet digital ini berhasil masuk 5 besar di Indonesia dengan jumlah pengguna terbanyak, menurut survei yang dilakukan oleh iPrice Group.
Tercatat, OVO telah digunakan lebih dari 115 juta pengguna.
Jika diurutkan, OVO berhasil menduduki peringkat kedua di bawah GoPay.
Nilai valuasi OVO pun kini sebesar Rp42 triliun. Dari keberhasilan inilah menjadikan OVO menjadi startup Indonesia kelima yang berhasil mendapatkan gelar Unicorn.
6. Xendit
Xendit, perusahaan rintisan (startup) infrastruktur pembayaran, meraih pendanaan Seri-C Rp 2,1 triliun atau US$ 150 juta, baru-baru ini.
Pendanaan Seri C ini menjadikan Xendit sebagai startup unicorn baru di Indonesia. Mengikuti jejak Gojek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka yang lebih dulu berstatus unicorn.
Tessa Wijaya, Co-Founder dan Chief Operating Officer (COO) Xendit, mengungkapkan ada tiga target yang ingin diraih, sejak pendanaan anyar tersebut.
Pertama, pengembangan pasar ke seluruh negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, dan lain-lain. Saat ini Xendit baru hadir di Filipina.
Pada tahun lalu, Xendit mencatat total volume transaksi pembayaran sebesar US$ 10 miliar di Indonesia dan Filipina. Volume pembayaran itu tumbuh lebih dari 200 persen dibandingkan tahun lalu.
"Kedua, menjadikan Xendit sebagai super apps untuk segmen business to business (B2B). karena merchant dan kustomer kami ingin layanan lebih, tidak sekadar sebagai pembayaran. Jadi 1-2 tahun ke depan, kami akan kembangkan value added service (VAS) Xendit. Semua, apa pun, ada di Xendit," ujar Tessa dalam acara Instagram Live: Ruang Muda Merdeka.com.
Yang ketiga, lanjut dia, membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia go digital. Pada Agustus lalu ada 10.000 UMKM yang mendaftar di Xendit. Tren ini membuat kami mesti mengubah pola produknya supaya mudah digunakan di kalangan UMKM.
"Yang akan dilakukan, kami membuat mobile first, aplikasi Xendit yang mudah digunakan oleh orang awam. User friendly sebab UMKM ingin simpel dan cepat beres," ujarnya.
7. J&T Express
Perusahaan logistik J&T Express memperoleh pendanaan sekitar USD 2 miliar pada April 2021. Dana tersebut berasal dari sejumlah investor yakni Hillhouse Capital, Boyu Capital, dan Sequoia Capital.
Firma riset CBInsight pun menobatkan J&T Express sebagai perusahaan unicorn asal Indonesia pertama pada 2021.
Menurut CBInsight, valuasi J&T Express saat ini mencapai USD 20 miliar atau setara Rp 284 triliun.
8. Ajaib
Fintech investasi saham dan reksa dana, Ajaib menjadi unicorn di Indonesia setelah menggalang dana Seri B senilai USD 153 juta atau sekitar Rp2,1 triliun dari DST Global. Hal ini menjadikan Ajaib sebagai fintech unicorn investasi pertama di Asia Tenggara.
Pencapaian ini diperoleh Ajaib dalam dua setengah tahun pertama, menjadikan Ajaib sebagai startup tercepat yang meraih status unicorn dalam sejarah Asia Tenggara. Pendanaan kali ini pun membawa jumlah total yang dikumpulkan oleh Ajaib menjadi USD 243 juta pada tahun 2021 saja.
Pendanaan Seri B ini dipimpin oleh DST Global, bersama dengan investor terdahulu Ajaib, yaitu Alpha JWC, Ribbit Capital, Horizons Ventures, Insignia Ventures, dan SoftBank Ventures Asia. DST Global dan Ribbit Capital juga merupakan investor besar dalam Robinhood, fintech investasi saham di Amerika Serikat yang sering disandingkan dengan Ajaib.
Disandingkannya Ajaib dengan Robinhood membuktikan bahwa kemajuan kapabilitas teknologi dan pasar modal di Indonesia mampu bersaing dengan pasar global.
Advertisement
Sektor Bisnis Pencetak Unicorn Baru di Masa Depan
Indonesia Fintech Society (IFSoc) melihat fenomena kemunculan unicorn masih akan bermunculan di tahun-tahun yang akan datang. Saat ini, Indonesia memiliki 8 unicorn yaitu Gojek-Tokopedia (Goto), Bukalapak, Xendit, Ovo, Traveloka, J&T Ekspress, Onlinepajak dan Ajaib.
"Masih akan bermunculan baik dari sektor healthtech, fintech atau edutech," kata Steering Sommittee IFSoc, Rudiantara.
Namun ternyata di balik banyaknya unicorn di Indonesia, Singapura masih memimpin dalam hal jumlah kepemilikan perusahaan rintisan dengan nilai kapitalisasi lebih dari USD 1 miliar tersebut.
"Jangan senang dulu. Kalau kita lihat siapa yang menguasai dari pada unicorn-unicorn ini? bukan Indonesia, yang kuasai itu sebenarnya Singapura," ujar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.
Dia mengatakan, Indonesia memang memiliki Gojek dan Tokopedia sebagai start-up raksasa, tetapi Singapura masih mendominasi ekonomi digital di Asia Tenggara. Meski negara itu memiliki penduduk yang lebih kecil.
"Sebenarnya yang terbesar-terbesar mereka itu datangnya dari Singapura, rakyat 5 juta tetapi menguasai ekonomi digital di Asia Tenggara," jelas Mendag Lutfi.
Reporter: Natasha Khairunisa Amani
Sumber: Liputan6