Deputi Bidang Sistem Informasi Kepegawaian BKN, Suharmen mengakui Makassar menjadi wilayah yang paling rawan dalam pelaksanaan seleksi CPNS dan PPPK Non Guru. Bahkan kecurangan telah terjadi sejak proses seleksi dilakukan secara manual hingga saat ini yang sudah berbasis teknologi.
"Tapi bicara dari pengalaman saat ini, baik dari fisik atau dari sebelumnya, Makassar ini paling rawan karena dulu belum online," kata Suharmen dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, (2/11).
Suharmen bercerita, saat proses seleksi masih dilakukan secara manual, pernah ditemukan praktik perjokian. Para pelaku yang ketahuan pun lantas ditangkap dan diamankan kepada pihak kepolisian.
Ketika seleksi dilakukan secara online pun tak lantas menutup praktik perjokian. Saat pendaftaran seleksi peserta yang hadir merupakan peserta aslinya. Namun saat ujian dimulai, orang yang mengerjakan soal bukanlah peserta.
"Pernah terjadi yang mendaftar ini pesert, tapi yang masuk ruang tempat ujian orang yang berbeda," kata dia.
Untuk itu, BKN melakukan terobosan inovasi dengan teknologi perekaman wajah (face recordnation) sejak pendaftaran, hingga pelaksanaan ujian. Kamera yang ada di komputer digunakan untuk memastikan peserta mengerjakan sendiri soal-soal ujian.
"Makanya di PC yang digunakan web kameranya aktif, kalau tidak aktif, ini tidak bisa digunakan seleksi," kata Suharmen.
Selain menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) untuk pra analitik proses seleksi, pihaknya juga melakukan face recordnation usai seleksi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko tindak kecurangan yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Ini langkah antisipasi yang kami lakukan untuk menghindari perjokian," kata dia mengakhiri.