Indonesia berkomitmen penuh dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030 dan 41 persen dengan bantuan internasional. Ini diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim di dunia.
Guna mendukung pemerintah dalam mencapai target kontribusi yang ditetapkan secara nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC), Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) terus mempercepat rehabilitasi mangrove, salah satunya di Desa Kurau Barat, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung.
Bahkan, target penanaman mangrove seluas 10 hektare di Desa Kurau Barat sudah rampung dilakukan. Yasir selaku Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Gempa 01 menyebut, meski ada beberapa kendala, namun hal tersebut tak menyurutkan semangat warga untuk terus menyelesaikan penanaman mangrove.
"Kendala pertama itu adalah jarak, kondisi agak jauh dari tempat kita, sekitar hampir lima kilometer (km), jalanannya juga berlumpur. Selain itu mungkin dari kondisi cuaca, kalau lagi pasang tinggi ya kami berhenti, kalau sedang surut baru kami lanjut jalan," ujar Yasir dikutip di Jakarta, Minggu (31/10).
Dirinya bercerita, bahwa warga di Desa Kurau Barat sudah mempunyai kesadaran yang tinggi dalam menjaga alam maupun menjaga ekosistem mangrove. Pasalnya, mayoritas warga di sini memiliki pekerjaan sebagai nelayan tradisional yang kerap menangkap kepiting bakau. Yasir berharap, rehabilitasi mangrove tak hanya sebatas penanaman tapi dilanjutkan dengan pemeliharaan.
"Mangrove ini bukan hal mudah yang kalau ditanam itu langsung tumbuh, sehingga harus ada pemeliharaan. Misalnya saja di Bangka Tengah ini kan kerap ada pasang tinggi, diikuti adanya gelombang omba, jadi kalau tanaman itu tidak dipelihara maka mereka tidak akan kuat atau mati," ungkap pria yang juga turut melakukan penanaman mangrove ini.
Menurut Didy Wurjanto, Kepala Kelompok Kerja Hubungan Masyarakat BRGM, kegiatan rehabilitasi mangrove yang dilakukan di Bangka Tengah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), di mana BRGM secara langsung melibatkan masyarakat, sehingga bisa meningkatkan perekonomian mereka.
Selain meningkatkan perekonomian, Didy juga mengatakan bahwa kegiatan rehabilitasi ini mendukung visi Presiden Joko Widodo yang menargetkan rehabilitasi mangrove di seluruh Indonesia seluas 34.000 hektare.
"Juga untuk memenuhi komitmen Indonesia dalam Paris Agreement dalam mengatasi perubahan iklim yang terjadi di dunia," Pungkas Didy.
Advertisement
Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengunjungi Desa Tritih Lor di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (23/9). Jokowi menanam mangrove bersama masyarakat untuk melestarikan kawasan hutan mangrove.
"Melakukan penanaman mangrove bersama-sama dengan masyarakat karena memang rehabilitasi mangrove harus kita lakukan untuk memulihkan, untuk melestarikan kawasan hutan mangrove ini," kata Jokowi di Desa Tritih Lor, Kamis (23/9).
Selain itu, kata dia, penanaman mangrove ini untuk mengantisipasi perubahan iklim yang sekarang sedang terjadi ini di dunia. Penanaman mangrove ini juga diharapkan dapat mengurangi energi gelombang, melindungi pantai dari abrasi dan menghambat interupsi air.
"Kemudian memperbaiki lingkungan pesisir dan memperbaiki habitat di daerah pantai yang kita harapkan berdampak kepada peningkatan produksi ikan dan produksi hasil laut lainnya," ucapnya.
"Terutama ini kepiting, tadi kita dapat kepiting dua, sehingga nantinya kita harapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di pesisir pantai ini," kata eks Wali Kota Solo itu.
Kepala Negara menambahkan, rehabilitasi mangrove akan terus dilakukan baik oleh Badan Restoran Gambut dan Mangrove dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
"Dan target kita di tahun 2021 ini adalah kurang lebih 34 ribu hektare di seluruh tanah air," pungkasnya.