Bank Dunia: 2/3 Pekerjaan di Indonesia Berkualitas Rendah di 2018

Bank Dunia merilis laporan Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia. Laporan tersebut menyebutkan, per tahun 2018, sebanyak 2/3 dari jumlah pekerjaan di Indonesia berada di sektor pertanian atau jasa berkualitas rendah (low quality).

Rita
Oleh Rita - Reporter
Bank Dunia: 2/3 Pekerjaan di Indonesia Berkualitas Rendah di 2018
Suasana jam pulang kantor di masa PSBB transisi. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Bank Dunia merilis laporan Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia. Laporan tersebut menyebutkan, per tahun 2018, sebanyak 2/3 dari jumlah pekerjaan di Indonesia berada di sektor pertanian atau jasa berkualitas rendah (low quality).

Status kualitas rendah ini merujuk pada ketidaksesuaian gaji dan benefit yang didapat dengan beban pekerjaan yang diberikan, atau gaji dan benefit yang didapat tidak dapat menunjang kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.

Maria Monica Wihardja, salah satu kontributor laporan tersebut, menyebutkan, kebanyakan status pekerjaan ini disematkan pada para pekerja di sektor informal, seperti di warung makanan, ritel makanan dan minuman hingga pengemudi ojek online.

"Kemudian, di tahun 2019, sebanyak 38,2 persen pekerja adalah pemilik usaha, dan 61,8 persennya merupakan karyawan. Setengah dari pemilik usaha berstatus self-employed, sedangkan 2/3 karyawan bekerja tanpa adanya kontrak," jelas Monica dalam peluncuran laporan secara daring, Rabu (30/6).

Lanjutnya, secara keseluruhan, 3/4 dari jumlah pekerjaan di Indonesia berstatus informal. Produktivitas tenaga kerjanya juga rendah, tercermin dari biaya tenaga kerja per unit yang tinggi dibandingkan dengan kawasan Asia Timur lainnya.

Di sisi lain, porsi pekerjaan berstatus menengah (middle-class) hanya dinikmati sebagian kecil pekerja di Indonesia. Per tahun 2018, dari 124 juta pekerja di Indonesia, hanya 85 juta pekerja yang mendapat gaji dan benefit. Sisanya ialah pekerjaan yang tidak mendapat gaji dan benefit.

Dari 85 juta pekerjaan tersebut, hanya 15 persen pekerja yang mendapatkan pekerjaan berstatus menengah, dan hanya 4 persen pekerja yang menjadi pegawai tetap dan mendapat benefit sosial yang penuh. "Meski sebagian besar pekerjaan di Indonesia menyelamatkan dari kemiskinan, mereka (pekerjaan) tetap tidak bisa membawa masyarakat Indonesia berstatus middle-class," jelas Monica.

Alasan

Monica membeberkan beberapa alasan mengapa Indonesia masih kesulitan menciptakan lapangan kerja berstatus menengah (middle-class jobs). Pertama, transformasi struktural yang terjadi tidak meningkatkan produktivitas pekerjanya, sehingga penciptaan lapangan kerja menengah sulit terwujud.

"Kedua, struktur ekonomi Indonesia belum kondusif dalam menciptakan lapangan kerja menengah. Sebanyak 2/3 pekerjaan merupakan usaha rumah tangga dengan 45 juta pemilik dan 38 juta pekerja, dimana hampir semuanya berstatus informal," jelas Monica.

Sektor formal juga ternyata sulit menciptakan pekerjaan menengah ini. Terdapat sektor potensial yaitu sektor manufaktur, kendati penciptaan lapangan kerja terjadi hanya di perusahaan yang tua dan besar saja. Perusahaan baru memiliki kesulitan dalam bertumbuh dan merekrut pekerja baru.

Faktor ketiga ialah kurangnya kemampuan (skill) pekerja untuk masuk ke ranah pekerjaan menengah. Monica mengatakan, pekerjaan menengah cenderung membutuhkan skill khusus berupa kemampuan berpikir yang kuat, kemampuan interpersonal dan kemampuan digital, diimbangi dengan wawasan di bidang sains, teknologi, teknik, matematika atau administrasi bisnis.

"Namun, per 2018, hampir 60 persen pekerja hanya bersekolah 9 tahun atau bahkan kurang," katanya.

Pekerja perempuan dan pemuda juga mengalami hambatan dalam berkarir di pasar tenaga kerja. Partisipasi pekerja perempuan cenderung sama sejak 1991 hingga 2021 yaitu di kisaran 50 persen saja. "Dan di dunia kerja, sebagian besar pekerja perempuan mendapatkan gaji dan benefit 25 persen lebih rendah dari pekerja laki-laki meski beban pekerjaannya sama," katanya.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi