Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tengah menjajaki Foxconn untuk membangun pabrik di Indonesia. Perusahaan perakit produk Apple ini berencana membangun pabrik baru di luar China imbas dari perang dagang.
Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, mengakui salah satu dampak investasi Foxconn akan membuat produk Apple di Indonesia menjadi lebih murah.
"Secara teoritis harga produk akan lebih murah karena mendekatkan produk dengan pasar sehingga biaya distribusi menjadi murah," ujarnya saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Selasa (18/8) malam.
Namun, turunnya harga harus didukung faktor lain, seperti ketersediaan bahan baku dan biaya tenaga kerja. "Kalau harga lebih efisien tentu daya beli masyarakat akan produk tersebut tercapai," jelasnya.
Enny menambahkan, investasi Foxconn juga akan membuka lapangan kerja baru. Harapannya semakin banyak tenaga kerja terserap maka bisa mengungkit daya beli masyarakat yang terpukul imbas virus corona.
Akan tetapi, Enny turut mengingatkan pemerintah tetap harus memastikan ada alih pengetahuan pada investasi Foxconn ini. Sebab, jika tidak, Indonesia akan selamanya menjadi negara konsumen.
"Ketika investasi hanya memindahkan pabrik sementara value added rendah akan memberikan dampak yang rendah ke kita. Misal semua bahan baku impor dan tidak ada transfer teknologi," jelasnya.
Advertisement
Foxconn Berniat Bangun Pabrik Baru di Luar China
Foxconn Technology Group, pembuat ponsel Apple yakni iPhone, berencana untuk membuka pabrik baru di luar China. Ini dikarenakan Foxconn ingin menghindari tarif perdagangan tinggi akibat perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Foxconn ingin harga produknya masih bisa bersaing.
Dilansir dari Forbes, Chairman Foxconn Young Liu mengatakan rencana pabrik baru akan dibuka di India, salah satu negara Asia Tenggara dan Amerika. Juru bicara Foxconn menyebut tidak menyebut berapa kapasitas produksi pabrik baru ini nantinya. Saat ini kapasitas produksi pabrik Foxconn di luar China sebesar 30 persen.
"Rencana manajemen ini telah mempertimbangkan faktor global yang mempengaruhi perusahaan dan konsumen industri elektronik," ujar Foxconn.
Meningkatnya ketegangan antara China dan AS membuat perusahaan teknologi dalam dilema. Mengganggu rantai pasok dan mengancam potensi mereka untuk ekspansi pasar.
Analis Counterpoint Research, Brandy Wang, mengungkapkan rencana pembukaan pabrik baru Foxconn sudah dibahas sejak 2018 dan awal 2019. Pengurangan kapasitas produksi di China telah dilakukan Foxconn dan memindahkannya ke pabrik di India dan Vietnam.
Sejumlah laporan mengatakan Foxconn berencana berinvestasi sebesar USD 1 miliar untuk membuka pabrik baru di India Selatan. Laporan lain mengatakan Foxconn berencana membangun pabrik senilai USD 10 miliar di Wisconsin, AS.
Foxconn yang kini memiliki pabrik di 16 negara dunia telah mulai memindahkan peralatan produksi keluar dari China. Sebagai informasi, konsumen Foxconn selain Apple saat ini ialah Dell, HP, Google, hingga Tesla.
Foxconn menyadari pembukaan pabrik baru akan menambah biaya produksi. Namun, di sisi lain, pendapatan juga akan ikut terkerek naik. Dalam sepuluh tahun terakhir, Foxconn telah tumbuh dan dipercaya menjadi pilihan pertama untuk membuat produk-produk Apple dibanding perusahaan IT sejenis di dunia.
Advertisement
BKPM Dekati Foxconn Untuk Pilih Investasi Pabrik di RI
Juru Bicara BKPM, Tina Talisa, mengungkapkan Foxconn menjadi salah satu perusahaan yang aktif dilobi untuk berinvestasi di Indonesia. Sementara itu, sejauh ini sudah ada 7 perusahaan yang memastikan akan merelokasi investasi ke Indonesia.
"Upaya penjajakan saat ini terus dilakukan ke berbagai perusahaan, termasuk Foxconn," ujarnya kepada merdeka.com di Jakarta, Selasa (18/8).
Menurutnya, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia telah membentuk satgas relokasi investasi yang dinamakan tim mawar. Langkah ini adalah upaya untuk menjajaki, menarik, dan mengawal perusahaan-perusahaan yang berniat merelokasi usahanya akibat perang dagang AS-Tiongkok dan dampak pandemi.
"Sejauh ini 7 perusahaan sudah memastikan relokasi investasi ke Indonesia," tuturnya.