CEO AirAsia, Tony Fernandes, menceritakan perjalanan hidupnya membangun perusahaan yang semula akan tamat dan dililit banyak utang hampir mencapai USD 1 juta per bulan. Maskapai berwarna merah itu, dulunya bahkan diprediksi tak punya masa depan yang jelas.
Sebelum ditangani oleh Tony, AirAsia dulunya hanya punya sedikit rute. Dia pun perlahan membangun perusahaan ini dimulai dengan mengandalkan pesawat yang masih bisa dimanfaatkan. Perjalanan dimulai dengan penerbangan dengan tiket murah.
"16 tahun lalu, saya tidak punya pemahaman banyak soal airlines (maskapai penerbangan)," ujar Tony saat mulai menceritakan sebagian dari isi bukunya berjudul Flying High di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (4/7).
Tony menceritakan, menjadi CEO tak hanya soal kemampuan (skill) dan kecerdasan, tetapi kepekaan terhadap tantangan untuk meraih kesuksesan. Bermula dari mimpi seorang bocah, dia berhasil mendapatkan impiannya, yaitu memiliki pesawat terbang dengan tiket terjangkau.
Tony melalui perjalanan dengan penuh lika-liku dan perjuangan. Siapa sangka pria yang memulai karier sebagai akuntan sederhana, bisa mewujudkan impian banyak bocah kecil di dunia, salah satunya memiliki pesawat terbang.
Pada 16 tahun lalu, saat memulai perjalanannya, Tony pun dengan keras melawan orang-orang yang meremehkannya hingga berhasil mewujudkan mimpinya. Keberhasilan dimulai di dunia musik sebagai pelaku bisnis musik di Warner Group hingga menjadi CEO AirAsia.
Belum lagi sebagai salah satu pemilik klub sepakbola Inggris, Queens Park Rangers dan sempat terjun di F1. Tentu AirAsia akan selalu menjadi babak terpenting bagi Tony Fernandes. Dongeng yang penuh kesuksesan, namun tak begitu menyenangkan di awalnya.
Dalam bukunya setebal 241 halaman itu, pesan Tony Fernandes kepada semua pemimpi di dunia sederhana saja. "Kejarlah mimpi karena sebagian impian bisa menjadi kenyataan."