Jokowi setuju produksi kendaraan listrik pada 2025 mencapai 20 persen

"Kami bahas dengan Bapak Presiden dan beliau setuju untuk dilakukan semacam pembatasan pada waktu tertentu. Salah satu yang kita setujui adalah beliau menyetujui tahun 2025 itu 20 persen itu sudah diproduksi dari mobil berbasis 'electric vehicles'."

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Jokowi setuju produksi kendaraan listrik pada 2025 mencapai 20 persen
Mobil listrik. ©2013 merdeka.com/idris rusadi putra

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melaporkan perkembangan mobil listrik ke Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (30/8).

"Saya juga melaporkan peta jalan mobil listrik. Pada prinsipnya beliau menanyakan mengenai waktu-waktunya, time frame dari mobil listrik," kata Airlangga usai menghadap Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta.

Menurut Airlangga, di dunia ini ada beberapa mazhab mobil listrik, yakni melarang total dan ada juga yang melakukan minimal kendaraan mobil listrik.

"Kami bahas dengan Bapak Presiden dan beliau setuju untuk dilakukan semacam pembatasan pada waktu tertentu. Salah satu yang kita setujui adalah beliau menyetujui tahun 2025 itu 20 persen itu sudah diproduksi dari mobil berbasis 'electric vehicles'," katanya.

Sedangkan terkait bea masuk, kata Airlangga, berdasarkan "free trade agreement" (FTA) sebesar 50 persen untuk kendaraan mobil listrik. Airlangga menyebutkan berdasarkan 'most favored nation (MFN) sebesar 50 persen dan pihaknya ingin menurunkan MFN tersebut 5 persen jika produsen mobil listrik tersebut memiliki "roadmap" untuk berproduksi di dalam negeri.

"Kalau tidak mempunyai komitmen membangun di dalam negeri, tentu tidak dapat fasilitas yang 5 persen. Jadi ini yang akan didorong," katanya.

Airlangga mengakui jika jumlah komponen mobil listrik yang dibikin lebih sedikit dari pada komponen motor bensin, sehingga supplier itu harus menyesuaikan diri juga. "Suplier komponen lokal ini kita beri kesempatan untuk juga bisa sebagian hijrah untuk memproduksi komponen 'electric vehicle'," katanya.

Menperin mengatakan saat ini sudah banyak pabrikan yang ada di Indonesia sudah memamerkan purna rupanya (prototype) dan selanjutnya akan dilakukan uji coba. "Pengujian itu kan terhadap dua tipe, motor listrik itu kan ada dua, satu yang 'plug-in hybrid', jadi dia memang harus dicolokin ke listrik, ada juga yang mempunyai engine bukan hybrid, engine hanya untuk meng-charge. Jadi 'self charging electric vehicle'," kata Menperin.

Airlangga mengatakan 'self charging electric vehicle' ini juga nanti ikut disiapkan di Indonesia. "Jadi ada tipe yang satu tidak perlu di plug-in. Yang satu plug-in. Dua-duanya jenisnya adalah electric vehicle," ujarnya.

Saat ini, 'roadmap' Kementerian Perindustrian yang sekarang harus dikerjakan adalah untuk pengembangan teknologi baterainya, yakni "lithium-ion battery".

"Lithium-ion battery, Kementerian Perindustrian melakukan 'research' mengenai itu dan ada salah satu produsen otomotif juga mempersiapkan Lithium-ion battery. Tetapi teknologi itu bisa di kembangkan dengan dua cara, Lithium-ion, dan juga menggunakan baterei yang standar sekarang. Jadi kalau seperti teknologi motor mungkin electric vehicle tapi motornya bukan menggunakan Lithium-ion, tapi baterai biasa, tapi dua biji. Ini kan teknologi yang berkembang," katanya.

Rekomendasi