BTN incar gaet nasabah dengan penghasilan Rp 7 juta-Rp 30 juta

BTN incar gaet nasabah dengan penghasilan Rp 7 juta-Rp 30 juta. Dari kajian perseroan, jumlah masyarakat di segmen affluent ini mencapai 70 juta orang. Bank BTN mengincar setidaknya mampu menggaet 10 persen dari jumlah tersebut. Bank BTN terus menggelar transformasi mulai dari bisnis, SDM, dan infrastruktur.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
BTN incar gaet nasabah dengan penghasilan Rp 7 juta-Rp 30 juta
BTN. Merdeka.com/Imam Buhori

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mengincar pasar affluent (masyarakat makmur) di Indonesia. Segmen ini digarap mengingat jumlahnya yang mencapai puluhan juta orang dengan pendapatan mencapai puluhan juta Rupiah.Corporate Secretary Bank BTN, Eko Waluyo, mengatakan pasar affluent menempati porsi yang cukup besar dalam komposisi masyarakat di Indonesia. Dari kajian perseroan, jumlah masyarakat di segmen affluent ini mencapai 70 juta orang dengan rata-rata penghasilan berkisar Rp 7 juta hingga Rp 30 juta per bulan."Kami melihat demand masih banyak. Saat ini kami masih menyasar mass market, sedangkan segmen affluent masih potensial. Ini yang tengah kami garap dengan transformasi yang telah dan akan terus berlanjut," jelas Eko dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/3).Hingga akhir 2016, Bank BTN telah menyalurkan kredit ke hampir 4 juta debitur. Mayoritas debiturnya, merupakan mass market yang setingkat di bawah affluent market.Potensi jumlah affluent market di Indonesia, lanjut Eko, menjadi pasar menarik. Menurutnya, Bank BTN mengincar setidaknya mampu menggaet 10 persen dari jumlah tersebut.Untuk menggarap pasar ini, Bank BTN terus menggelar transformasi mulai dari bisnis, sumber daya manusia (SDM), dan infrastruktur. Di segi bisnis, perseroan tengah menggenjot transformasi digital untuk menggarap pasar dalam negeri sekaligus mempersiapkan diri menjelang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).Transformasi digital sendiri telah digelar sejak 2015 dan ditargetkan rampung pada 2019 mendatang. Bank BTN juga telah meluncurkan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), mempercepat proses bisnis, menggenjot layanan digital, dan membuka smart branch untuk menggarap segmen affluent market tersebut.Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, saat ini Indonesia tengah mengalami bonus demografi yang telah berlangsung sejak 2012. Bonus demografi ini akan mencapai puncaknya pada 2028-2030 mendatang. Bagi perekonomian, BPS menilai, bonus demografi menyumbang hingga sepertiga dari pertumbuhan ekonomi."Kami meyakini transformasi yang kami lakukan mampu menggarap potensi dari aflluent market, generasi milenial, dan berkah bonus demografi yang tengah dinikmati Indonesia," tutup Eko.

Rekomendasi