Bank Mandiri mengungkapkan kebutuhan investasi dalam pembangunan infrastruktur diperkirakan mencapai Rp 1.000 per tahun. Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2017, pemerintah telah mengalokasikan kenaikan anggaran infrastruktur menjadi sekitar Rp 387 triliun atau Rp 70 triliun lebih tinggi dibandingkan APBN-P 2016.
Dalam kajian terbarunya tim ekonom Mandiri Group, Indonesia perlu meningkatkan pertumbuhan investasi dalam jangka menengah untuk melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi yang terlihat sejak tahun lalu. Sebab, keterbatasan anggaran pemerintah dalam membiayai seluruh investasi terutama infrastruktur.
Untuk itu, Bank Mandiri menggelar Mandiri Investment Forum (MIF) 2017 di Hotel Fairmont, Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong investasi swasta agar perekonomian nasional terus tumbuh.
Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, tujuan utama dari MIF adalah menjembatani kebutuhan informasi investor dan regulator dalam menentukan kebijakan terbaik demi meningkatkan arus investasi di Indonesia.
"Event ini menjadi kesempatan tepat di mana seluruh regulator stalkeholder di bidang investasi akan duduk bersama untuk menjawab berbagai keraguan investor untuk menempatkan asetnya di Indonesia. Kami berharap daat menghasilkan impact signifikan pada penyempurnaan iklim investasi di Tanah Air," ujar Kartika, Rabu (8/2).
Selain mengadakan MIF, Bank Mandiri juga melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara perseroan dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Hal itu dimaksudkan untuk membantu meningkatkan investasi pada industri kreatif.
"Kami menyadari industri kreatif domestik, terutama inovasi pemanfaatan teknologi informasi memiliki potensi bisnis sangat besar dan mampu bersaing di tingkat internasional. Maka, mereka perlu terus didukung sehingga dapat menjadi magnet bagi para investor yang tertarik pada bisnis ini," pungkasnya.