Polisi mengungkap alasan di balik tindakan teror bom yang terjadi di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pelaku inisial MY diduga melakukan aksi tersebut karena merasa tersinggung terhadap pernyataan guru mengenai biaya seragam sekolah anaknya.
"Jadi beberapa hari sebelum kejadian, kan nanya dia masalah seragam. Jawabannya 'Udah, enggak usah beli seragamnya, saya tahu kondisi kamu kan begitu'," jelas Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Joko Adi, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, MY mengaku mendengar pernyataan itu ketika berbincang dengan salah satu guru di sekolah. Sebagai orang tua, ia merasa sangat tersinggung sehingga nekat melakukan teror, meskipun pelaku tidak menyangka bahwa tindakannya akan menimbulkan kepanikan yang luar biasa.
Sementara itu, istri dan kedua anak MY telah diungsikan oleh keluarganya. Anak pelaku juga tidak lagi bersekolah di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi setelah insiden tersebut terungkap ke publik.
Ketua RT 03/RW 04 Gang Kidan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Anton Sianipar, menyatakan bahwa istri dan dua anak MY kini tinggal sementara di rumah orang tua dari pihak istri. Keputusan ini diambil untuk melindungi mereka dari situasi yang tidak nyaman.
"Anak pelaku dan istrinya saat ini sudah tidak tinggal lagi di lingkungan RT 03 RW 04, sudah diungsikan pihak keluarga di rumah orang tua dari pihak perempuan," ungkap Anton Sianipar.
Anton juga menjelaskan bahwa keputusan untuk mengungsi diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek pascainsiden teror bom tersebut. Menurutnya, langkah ini bertujuan untuk mencegah trauma yang mungkin dialami oleh istri dan kedua anak pelaku akibat situasi di sekitarnya.
"Dia setelah kejadian itu anak sama istri diungsikan dan anaknya itu sudah tidak bersekolah lagi di SDN Srengseng Sawah itu, jadi belum didampingi pihak kepolisian atau Komisi Perlindungan Anak," tuturnya.
Advertisement
Kronologi
Kkepolisian mengungkapkan adanya aksi teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi yang terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Insiden ini bermula ketika seorang guru menerima pesan pribadi melalui aplikasi WhatsApp saat upacara pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Pesan tersebut diterima oleh guru kelas 1 serta staf Tata Usaha (TU), yang kemudian merasa perlu untuk melaporkannya kepada pihak kepolisian.
Setelah menerima laporan, pihak kepolisian segera menuju lokasi untuk melakukan pengecekan. Dalam pesan yang diterima, peneror mengancam akan meledakkan bom di 11 titik di sekolah dan meminta agar pihak sekolah tidak melaporkan ancaman tersebut kepada polisi.