Daya tarik Jepang untuk pekerja asing memudar

Ini seiring peningkatan upah terjadi di sejumlah negara Asia.

Moch Wahyudi
Oleh Moch Wahyudi - Reporter
Daya tarik Jepang untuk pekerja asing memudar
ilustrasi para pekerja Jepang. ©Daily Mail

Daya tarik Jepang sebagai ladang mencari nafkah untuk pekerja asing semakin memudar. Ini seiring peningkatan upah terjadi di sejumlah negara Asia.

Seperti diberitakan Nikkei, kemarin, jumlah pekerja asing di Jepang diperkirakan masih bakal bertahan di atas satu juta orang pada akhir tahun ini. Namun, tren tersebut diyakini tak akan bertahan lama, meskipun Negeri Matahari Terbit mengadopdsi kebijakan yang lebih mendukung imigrasi.

Ada sejumlah alasan untuk itu. Antara lain, perbaikan tingkat upah dan kondisi kerja lainnya di sejumlah negara Asia. Semisal: Korea Selatan dan Taiwan.

Lalu, kesempatan kerja juga tumbuh di China. Negeri Tirai Bambu merupakan pemasok pekerja utama untuk Jepang.

Per Oktober 2015, Jepang memiliki sebangak 907,896 pekerja asing. Sepertiga diantaranya berasal dari China.

Meskipun masih dominan, namun rasio pekerja China di Jepang terus merosot. Untungnya, kekosongan itu bisa diisi oleh pekerja asing dari Asia Tenggara.

Tren penurunan pasokan pekerja asing ini dirasakan oleh pemiliki restoran China di distrik Akasaka, Tokyo. Dia merasa kesulitan untuk mencari pekerja baru.

Saat membuka lowongan untuk pekerja paruh waktu, seorang pelamar dari China meminta upah bulanan 300 ribu yen atau 2,833 dolar AS. Dua kali lebih banyak dari gaji yang biasa dia bayarkan ke pegawai lain.

"Saya tak bisa membayar gaji setinggi itu," gerutu sang pemilik.

Menurut pelamar dari China tersebut, level gaji berlaku di restoran saat ini tak jauh beda dengan yang dia dapatkan di kampung halaman. Pemasukan rata-rata pekerja di Shanghai mencapai 5,451 yuan atau USD 813 pada 2014 dan bakal terus meningkat.

Prefektur Ehime menjadi salah satu wilayah di Jepang yang paling menderita akibat penaikan upah di China. Sebab, 70 persen pekerja di sana berasal dari China.

Namun, upah minimum untuk pekerja full-time di prefektur terletak di barat laut Pulau Shikoku itu hanya sekitar 11 ribu yen per bulan. Tak beda jauh dengan besaran yang berlauk di wilayah urban di China.

"Datang ke Jepang tak lagi menguntungkan untuk pekerja China," kata seorang pejabat di Prefektur Ehime.

Pekerja asing di Korea Selatan dan Taiwan

Kontras dengan Jepang, jumlah pekerja asing di Taiwan dan Korea Selatan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Di pengujung 2015, Taiwan memiliki 590 ribu pekerja asing, meningkat 80 persen dalam satu dekade terakhir. Sementara Korea Selatan 940 ribu pekerja asing, mengungguli Jepang.

Apalagi kalau bukan upah yang menjadi penyebab utama. Depresiasi yen membuat selisih upah antara Jepang dengan kedua negara jirannya tersebut kian menyempit jika dinilai dalam dolar AS.

Upah minimum di Jepang sekitar USD 1,060 per bulan. Setara dengan tingkat upah di Seoul, jika dihitung dengan menggunakan nilai tukar pada Januari.

Penyebab lain: Jepang tak membuka pintu untuk pekerja asing nihil keahlian. Meskipun program magang membolehkan peserta asing tinggal di Jepang sekitar tiga tahun.

Sementara, Korea Selatan menerima pekerja asing tak berketerampilan. Ini guna mengatasi kelangkaan pekerja di sejumlah industri, terutama manufaktur. Tahun ini, Negeri Ginseng memprediksi bakal menerima 58 ribu pekerja asing tak terlatih.

Berdasarkan Kementerian Tenaga Kerja Korea Selatan, per akhir Oktober 2015, terdapat sebanyak 277 ribu pekerja asing yang menggenggam visa E-9. Pemiliki visa diperuntukkan bagi pekerja non-profesional itu boleh tinggal di Negeri K-Pop tersebut selama 4 tahun 10 bulan.

Jika pemegang visa E-9 itu akhirnya bisa meningkatkan keahliannya. Maka, dia berhak mendapatkan visa E-7.

Adapun pekerja asing tak terlatih di Taiwan bisa tinggal sekitar 12 tahun.

Rekomendasi