Pengamat ekonomi Institute Development Economic and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengungkapkan rencana keikutsertaan Indonesia dalam Trans Pacific Partnership (TPP) cuma kepanikan. Sebab, menurutnya, keikutsertaan tak begitu berdampak pada perekonomian dalam negeri terutama sektor impor dan ekspor."Saya lihat, kita seperti cuma ikutan-ikutan saja, ada kepanikan karena tetangga kita Malaysia, Vietnam, dan lain-lainnya ikut, tapi tak kita perhitungkan manfaatnya," kata Enny dalam diskusi Kajian Kesiapan Industri Otomotif Nasional Rencana Masuknya Indonesia ke TPP, Jakarta, Rabu (1/6).Menurut Enny, pangsa pasar Indonesia yang besar, hanya akan dimanfaatkan anggota TPP. Salah satunya pangsa pasar otomotif."Banyak orang pesimis, selama ini kita menjadi sumber bahan baku yang murah. Kita cuma jadi penonton saja," tuturnya.Enny menambahkan, selama ini, Indonesia belum bisa memberikan nilai tambah pada produk ekspor. Padahal, Indonesia memiliki hasil alam yang besar sebagai bahan baku produk."Karet kita paling tinggi produksinya, tapi produk ban kita impor tinggi. Kita belum menjaga eksistensi ekonomi kita di mata dunia," katanya.
INDEF nilai niat gabung TPP hanya bentuk latah pemerintah Jokowi
"Ada kepanikan karena tetangga kita Malaysia, Vietnam, dan lain-lainnya ikut, tapi tak kita perhitungkan manfaatnya."
Rekomendasi