Mantan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mendorong kearifan lokal sebagai solusi mengatasi persoalan ketahanan pangan di Indonesia. Menurutnya, cara itu bisa mendukung upaya pemerintah melakukan diversifikasi pangan dan menekan konsumsi beras.
Sebab, masyarakat daerah yang dalam sejarahnya bukan pemakan beras bisa didorong kembali untuk mengonsumsi penganan lokal. Seperti Sagu di Papua dan Jagung di Nusa Tenggara Timur.
"Iya kearifan lokal setuju sekali saya. Bisa menambah sumber pangan alternatif. Itu semua bisa didorong kembali kalau menurut saya," ujar Marie dalam Konferensi Internasional bertema "Feeding The Zone" di Jakarta, Sabtu (14/5).
Untuk menghidupkan kearifan lokal tersebut, Marie mendorong pemerintahan Joko Widodo untuk tak sungkan memberikan insentif pada petani. Ini agar petani semangat memproduksi pangan lokal.
"Mungkin iya, perlu insentif untuk kembali menanam."
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa kebutuhan pangan, khususnya beras, terus meningkat. Itu tak hanya disebabkan oleh pertambahan penduduk, tetapi juga perubahan konsumsi.
Dia mencontohkan, Pemerintahan Soeharto mendorong masyarakat Papua beralih mengonsumsi beras dari sebelumnya sagu.
"Dulu kebutuhan beras nggak sebesar sekarang karena orang Papua sekarang makan beras. Penduduk bertambah, makanan terbatas, pada ujungnya masalah," katanya.