Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said meluncurkan pelaksanaan pemanfaatan biodiesel 15 persen (B15), sejalan dengan paket kebijakan ekonomi yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Menurut dia, kebijakan pemanfaatan B15 dapat menghemat devisa negara melalui pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM)."Pelaksanaan mandatori B15 akan dapat menyerap produksi biodiesel dalam negeri sebesar 5,3 juta KL (setara dengan 4,8 juta ton Crude Palm Oil) dan memberikan penghematan devisa sebesar USD 2,54 miliar," ujar dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (23/3).Sudirman menegaskan disparitas antara Harga Indeks Pasar (HIP) biodiesel dengan BBM solar semakin meningkat. Maka diperlukan upaya untuk dapat mengatasi kondisi tersebut melalui penyediaan CPO untuk biodiesel dalam volume dan nilai yang wajar. Ketersediaan CPO sebagai bahan baku Biodiesel, menurut Sudirman, sangat mencukupi. Di mana produksi CPO pada 2014 mencapai 31 juta ton dengan pemakaian domestik sebesar 30 persen dari total produksi, dan akan meningkat menjadi 33 juta ton pada 2015. Saat ini pemerintah tengah menyiapkan instrumen kebijakan fiskal dalam rangka mendukung pelaksanaan B15 melalui pengendalian terhadap penyediaan CPO yang dipergunakan sebagai bahan baku biodiesel."Termasuk diantaranya adalah peninjauan kembali HIP Biodiesel karena adanya dukungan dari produsen minyak sawit yang berkontribusi dalam penyediaan bahan baku biodiesel," kata dia. Selain itu, Sudirman menambahkan Kementerian ESDM telah melakukan ujicoba pemanfaatan B20 pada kendaraan milik Gaikindo, Pertamina, BPPT dan Aprobi. Hasilnya, pemanfaatan B20 tidak menemukan masalah pada mesin."Kami berharap seluruh stakeholder terkait, baik instansi pemerintah, swasta, masyarakat maupun media turut berperan aktif mendukung dan mengawasi program B15 sehingga dapat berjalan dengan baik," pungkas dia.
Menteri Sudirman: Pakai BBN 15 persen,negara hemat devisa USD 2,54 M
Kebijakan pemanfaatan B15 dapat menghemat devisa negara melalui pengurangan impor BBM.
Rekomendasi