Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AMerika Serikat belum juga menunjukkan tanda-tanda penguatan. Rupiah sempat menyentuh angka Rp 13.200 per USD.
Belum lepas dari ingatan kita, berkali-kali Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, memburuknya kondisi Rupiah baik untuk meningkatkan kinerja ekspor. Pernyataan itu tak terbukti. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada Februari 2015 turun 16,02 persen dibanding periode sama tahun lalu (year on year).
"Kalau penurunan Rupiah, tidak serta merta ekspor meningkat," ujar Kepala BPS Suryamin kepada wartawan di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (16/3).
Peningkatan ekspor di tengah pelemahan Rupiah bergantung pada jenis komoditasnya. Sebab, ada beberapa komoditas yang merespon positif penurunan Rupiah, ada pula yang tidak.
Dari data BPS, Suryamin menyebut salah satu komoditas yang merespon positif pelemahan Rupiah adalah kendaraan serta sparepartnya.
"Kendaraan dan bagian-bagiannya ini responnya bagus, turunnya Rupiah, maka ekspor meningkat. Hampir 7 persen," tuturnya.
Selain itu, kata dia, sejumlah alat rumah tangga juga furnitur merespon ikut positif pelemahan Rupiah.
"Serat buatan itu juga meningkat (ekspornya) mungkin karena di luar negeri susah. Lalu besi dan baja masih merespon positif, meningkat ekspornya," ucapnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, secara umum Rupiah berada dalam posisi netral. Bahkan, ada pihak yang sumringah dan diuntungkan dengan pelemahan Rupiah yakni eksportir.
"Untuk importir tentu agak berat juga. Tapi secara umum justru kita perlu banyak ekspor, justru kita ingin kurangi defisit, sehingga dengan Rupiah 13.000 itu bagi ekonomi kita sebenarnya tidak menjadi soal," ucapnya.
Meski nilai tukar Rupiah anjlok, Indonesia harus bisa memanfaatkan kondisi kondisi ini. Dalam pandangannya, ini saatnya meningkatkan aktivitas dan kinerja ekspor Indonesia. Di sisi lain, aktivitas impor ditekan.
"Tentu kita juga harus perhatikan masalah-masalah kita juga, apa yang memperkuat ekspor kita lebih lanjut. Kalau Rupiah melemah artinya ekspor akan naik. Hal bagus. Pendapatan rakyat lebih banyak ekspor, impor akan lebih sulit," imbuh JK.