ESDM: Peraih nobel tidak akan bisa jaga kuota BBM subsidi

"Pemenang nobel sekali pun ke sini, kuota jebol," kata Susilo.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
ESDM: Peraih nobel tidak akan bisa jaga kuota BBM subsidi
alphard isi premium. ©2013 Merdeka.com

Wakil Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Susilo Siswoutomo angka tangan dalam mengendalikan konsumsi BBM subsidi di Indonesia. Menurutnya ini bukan pekerjaan mudah dan bahkan dia menganalogikan, para nobel ekonomi sekalipun, tidak akan sanggup mengerem konsumsi BBM subsidi. "Pemenang nobel sekali pun ke sini, kuota jebol," kata Susilo ketika ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/9).

Menurut Susilo, selama disparitas atau perbedaan harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi tinggi maka masyarakat akan tetap membeli BBM nonsubsidi. Kondisi ini membuat kuota terus meningkat dan jebol dari perkiraan pemerintah. "Selama disparitas harga Rp 6.000 - Rp 7.000, mau diapain jebol."

Sebelumnya, Senior Vice Presiden Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina, Suhartoko menyebut kuota BBM subsidi jenis premium tidak akan cukup hingga akhir tahun. Apalagi, sejauh ini belum ada sinyal dari pemerintah lama maupun pemerintah baru untuk melakukan pengendalian."Ya ini nanti pasti akan ada cara. Tapi terus terang saja untuk yang pemerintah baru dan pemerintah lama belum ada sinyal mau melakukan apa. Saat ini hanya instruksi dengan pengendalian terukur," kata Suhartoko ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (18/9).Suhartoko menegaskan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak jika kuota premium habis sebelum akhir tahun. Terlebih, kuota BBM subsidi sudah dikunci pemerintah bersama DPR di angka 46 juta kilo liter. Dalam hitungan Pertamina, BBM subsidi jenis premium akan habis pada 24 Desember 2014, sedangkan solar akan habis pada awal Desember. "Jadi ada 6-7 hari tanpa premium," katanya.

Rekomendasi