Nasib karyawan Merpati Nusantara Airlines (MNA) terus saja digantung pemerintah, selama 9 bulan hingga sekarang hak-hak normatif para karyawan belum diterima. Kabar teranyar, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tak punya solusi akhir masa depan maskapai penerbangan perintis tersebut.
Menteri BUMN Dahlan Iskan mengklaim sudah berusaha mencari jalan keluar dengan kemungkinan menjual aset. Namun ternyata Merpati sudah tak memiliki aset bernilai tinggi untuk dijual ataupun dijaminkan.
"Aset yang nilainya puluhan miliar sudah tidak ada sama sekali. Ada pesawat tapi kan sudah dijaminkan juga, jadi tidak bisa dijual. Sampai tadi, rapat itu 90 persen mencari apa lagi. Sehingga betul-betul tidak ada (aset). Saya sudah mencoba dan tidak dapat jalan keluarnya, bisa dikatakan sekarang buntu," ujarnya usai Rapat Pimpinan di Kantor Djakarta Lloyd, Jakarta, Kamis (18/9).
Solusi melunasi utang akumulasi Merpati sebesar Rp 7,2 triliun dengan menjual aset yaitu Merpati Maintenance Facility (MMF) tak juga dapat menyelamatkan maskapai penerbangan pelat merah itu.
"Dugaan saya MMF masih bisa dijual dan saya berharap tapi kita sudah cari jalan, apa yang bisa dijual dari Merpati, tidak ada yang bisa dijual. MMF ternyata sudah dijaminkan untuk utang-utang yang dulu, surat-suratnya sudah di tangan yang memberikan pinjaman itu sehingga tidak bisa ada lagi dijual," jelas dia.
Opsi lainnya pernah diutarakan Dahlan, restrukturisasi utang dan kuasi reorganisasi. Namun dua cara itu juga tak dapat menghidupkan kembali maskapai nasional tersebut.
"Bahkan, saya beritahukan bahwa kalau selama ini akumulasi rugi Rp 7,2 triliun bisa diselesaikan dengan kuasi ternyata tidak bisa, karena menurut peraturan yang baru bahwa kuasi tidak bisa dilakukan karena terakhir bisa dilakukan adalah akhir 2012," ungkapnya.
Meski begitu Dahlan mengaku tak mau menyerah untuk menyelamatkan maskapai berusia 52 tahun ini. "Intinya soal Merpati masih dicari, saya belum menyerah," tutup dia.