Ekonom Senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan menilai implementasi Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) belum berjalan optimal. Program unggulan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu hanya bagus di atas kertas.
"Kenyataannya, implementasinya sulit. Dari dulu, itu-itu saja. Pembebasan lahan, misalnya," katanya saat menghadiri refleksi tiga tahun pelaksanaan MP3EI di Jakarta Convention Center, Rabu (3/9).
Dia menambahkan, keterlibatan swasta dalam proyek MP3EI masih minim. Ini bukan lantaran swasta terbentur oleh finansial, melainkan persoalan iklim investasi, kelayakan proyek, serta tumpang tindih aturan pemerintah.
"Dana bukan masalah utama, kasarnya ada gula ada semut. Investor swasta dengan sendirinya akan datang. Mereka bisa gunakan dana internal, IPO, right issue, yang penting ada proyek yang feasible. Yang masalah hukum dan teknis telah diselesaikan."
Dia menegaskan swata condong memilih proyek yang siap direalisasikan dengan dukungan hasil kajian yang mantap.
"Pada akhirnya, proyek-proyek mana yang feasible, bukan blue printnya, bukan rencana lima tahunannya, tapi proyek mana yang paling gampang direalisikan dari pendekatan lahan, teknis, legal," katanya.
Menteri PPN/ Kepala Bappenas Armida Alisjahbana menegaskan, sepanjang tiga tahun terakhir, pemerintah sudah menjalankan 382 proyek dalam Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Itu terdiri dari 208 pembangunan infrastruktur dan 174 sektor riil itu dengan nilai investasi sebesar Rp 854 triliun.
Hingga Juni 2014, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menjadi investor proyek infrastruktur MP3EI terbesar dengan nilai mencapai Rp 157 triliun. Diikuti pemerintah dengan nilai investasi Rp 133 triliun, swasta Rp 29 triliun, dan campuran Rp 93 triliun.