Susanti (38) tampak begitu lesu kala senja mulai menghampiri. Langkahnya gontai perlahan menuju pos penjagaan sebuah perusahaan kontraktor kemasan kosmetik di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (30/4).
Saban kali masuk dan pulang kerja, Susanti dan ribuan buruh lain wajib transit di pos penjagaan itu. Dia meminta sebuah kartu pas sambil menyebutkan kode tertentu ke satpam yang tengah berjaga. Petugas di pos itu lantas mencatat kode yang disebutkan lalu menyerahkan ke Susanti.
Selepas kewajiban absen, Susanti menuju ruang tunggu yang letaknya tak jauh dari gerbang pabrik. Hari itu, Susanti dan ribuan buruh lain kebagian giliran masuk kerja malam hari. "Saya sudah 14 tahun bekerja di sini," ujar Susanti saat berbincang dengan merdeka.com.
Tak tampak keceriaan dari raut wajahnya meski rambutnya terlihat basah, pertanda usai membersihkan diri sebelum bekerja. Dia seperti menyimpan beban cukup berat. Sama seperti ribuan kelas pekerja lainnya di nusantara. Baginya, ini soal kesejahteraan dan harapan hidup layak.
Meminjam judul lagu milik Iwan Fals, dalam benak Susanti dan ribuan buruh lain di Indonesia, bisa hidup layak hanyalah mimpi yang tak terbeli. Meski menerima upah atas keringatnya telah disesuaikan dengan standar Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta, itu tidak serta merta menyelesaikan masalah yang ada di pundaknya.
"Belum cukup lah (kenaikan UMK). Meski sudah naik, tetap saja belum cukup," ungkap dia.
Saban bulan Susanti harus merogoh lebih kurang Rp 4.000.000 untuk bisa bertahan hidup di ibu kota. Itu pun dengan standar hidup di bawah rata-rata. Kebutuhan untuk tiga anaknya cukup besar. Belum lagi biaya rumah kontrakan sebesar Rp 600.000 perbulan.
Upah yang diperoleh Susanti tak sanggup memenuhi pengeluarannya. "Itu saja masih harus cari pinjaman buat tambahan Rp 500.000," kata dia.
Kisah lain datang dari Sumartini (49). Dia tak mau terlalu jauh bermimpi dan memilih menikmati apa yang diterimanya sebagai buruh pabrik. "Mungkin karena saya dan suami kerja semua. Jadi, wajar saja," akunya.
Setiap hari Sumartini berangkat kerja menggunakan angkutan umum dari rumahnya di kawasan Utan Kayu menuju asrama Brimob Pulogadung. Setiba di sana, Sumartini menunggu kendaraan penjemput yang telah disediakan pabrik. "Biasanya sih datangnya selalu jam 07.15. Paling telat, ya, 07.30 lah," ungkap dia.
Hampir seperempat abad dia bekerja di pabrik kosmetik di kawasan industri tersebut. Selama itu pula dia hanya mengandalkan gaji bulanan. Tanpa tunjangan, hanya sesekali menerima upah tambahan yang tak seberapa sebagai pelipur lara saat lembur kerja.
"Paling cuma Jamsostek. Uang lembur ada, tapi kan jarang," katanya.