Dalam mengurangi pengaruh fluktuasi nilai tukar Rupiah, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mengaku melakukan hedging atau lindung nilai tukar Rupiah terhadap USD.Presiden Direktur KRAS Irvan K Hakim mengatakan, fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap USD yang relatif tinggi menyebabkan perseroan harus mengambil inisiatif tersebut. "Kami hedging untuk transaksi penjualan," kata Irvan di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis (27/3).Namun, Irvan mengaku perseroan lebih membutuhkan stabilitas ketimbang nilai Rupiah yang menguat terhadap USD. "Rupiah 12.000, 13.000 yang penting bagi kami adalah stabilitas. Jangan hari ini menguat 200 poin, besok melemah 200 poin. Kami tidak ingin seperti itu," tutur Irvan.Tidak kurang dari USD 100 juta yang di hedging oleh perseroan tiap bulannya. Meski demikian, mekanisme hedging diakui tidak menutup semua risiko fluktuasi Rupiah terhadap USD."Hedging itu tidak menutup semua risiko, tergantung di titik mana memilih spot USD-nya. Kalau membeli di Rp 12.000 (per USD), kalau nanti rupiahnya melemah di Rp 12.300 (per USD) tindakan itu benar, tapi kalau jadi Rp 11.700 (per USD), Rp 300-nya itu menjadi cost. Karena itu uang hilang. Itu sangat berpengaruh karena kita mengandalkan bahan baku impor. Tapi bagi industri manufaktur yang tidak mengandalkan USD, relatif gak apa-apa," tutup Irvan.
Tekan kerugian, Krakatau Steel hedging USD 100 juta per bulan
Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap USD yang relatif tinggi menyebabkan perseroan harus mengambil inisiatif tersebut.
Advertisement
Rekomendasi