Restoran Korea di Bandung Tutup Sementara Usai Pengunjung Keracunan

Langkah penutupan sementara gerai ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian untuk melakukan pembersihan dan sanitasi secara menyeluruh, serta evaluasi terhadap proses dan standar operasional di gerai.

Azzura Galexia
Oleh Azzura Galexia - Reporter
Restoran Korea di Bandung Tutup Sementara Usai Pengunjung Keracunan
Restoran korea di Bandung dilaporkan sebabkan keracunan pengunjung. (merdeka.com/Rachmadi Rasyad).

Pihak restoran 88 SEOUL buka suara terkait laporan pengunjung mengalami keracunan usai menyantap makanan disajikan di restoran 88 SEOUL di kawasan 23 Paskal, Kota Bandung. Pihak manajemen menutup sementara operasional restoran 88 SEOUL 23 Paskal, Bandung usai menerima laporan warga keracunan.

"Sebagai tindak lanjut atas laporan yang telah kami terima dari sejumlah pelanggan, 88 SEOUL 23 Paskal, Bandung akan menghentikan sementara operasional pada 7-8 Oktober 2026," kata Marketing General Manager 88 SEOUL, Sarah Merci dalam keterangan diterima pada Rabu (7/10).

Sarah mengatakan, langkah penutupan sementara gerai ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian untuk melakukan pembersihan dan sanitasi secara menyeluruh, serta evaluasi terhadap proses dan standar operasional di gerai. Kepada pelanggan mengalami kondisi dan pengalaman yang tidak menyenangkan setelah berkunjung ke 88 SEOUL Paskal, Bandung, pihak manajemen menyampaikan permohonan maaf.

"Keamanan, kualitas, dan kenyamanan pelanggan selalu menjadi prioritas kami," ujar Sarah.

Sarah menuturkan, piohak manajemen mendengar dan peduli atas kekhawatiran disampaikan sejumlah pelanggan setelah berkunjung ke 88 SEOUL 23 Paskal, Bandung. Sarah menegaskan pihak 88 SEOUL selalu mengedepankan kualitas dalam melayani pembeli.

"Keamanan, kualitas, dan kenyamanan pelanggan selalu jadi prioritas kami. Saat ini, fokus utama kami adalah memastikan setiap pelanggan yang menyampaikan keluhan mendapatkan perhatian dan penanganan yang cepat dan tepat," kata Sarah.

Sarah mengatakan warga mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dapat langsung menghubungi customer care 88 SEOUL. Pihak dari restoran akan segera menindaklanjuti tiap keluhan.

"Kami berterima kasih kepada setiap pelanggan yang telah menyampaikan masukan kepada kami. Kami menghargai setiap informasi yang diberikan sebagai bagian penting bagi kami untuk terus menjaga kualitas dan pengalaman pelanggan," ujar dia.

 

24 Warga Lapor Keracunan

Sebelumnya diberitakan, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kota Bandung (Pemkot Bandung) menyatakan telah menerima laporan warga mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan di restoran 88 SEOUL di kawasan 23 Paskal, Kota Bandung. Total 24 orang melapor ke Dinkes Pemkot Bandung.

"Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pemkot Bandung, Dewi Primasari dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (7/10).

Dewi mengatakan, Dinkes Pemkot Bandung masih membuka kanal bagi masyarakat hendak melapor korban keracunan. Angka korban pelapor kemungkinan masih akan bertambah.

Gejala Dialami Konsumen

Adapun dari laporan diterima pihak Dinkes Pemkot Bandung, Dewi mengatakan, gejala dialami masyarakat usai mengonsumi makanan di restoran 88 SEOUL yakni sakit perut, mual, muntah, hingga diare. Saat ini, Dinkes Pemkot Bandung masih memantau kondisi kesehatan korban.

"Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat," jelas Dewi.

Temuan Dinkes

Selain itu, Dinkes Pemkot Bandung juga telah menginspeksi ke restoran 88 SEOUL. Hasil pemeriksaan awal, Dinkes Pemkot Bandung menemukan sejumlah aspek higiene dan sanitasi restoran masih perlu diperbaiki.

"Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran," kata dia.

Adapun aspek diperiksa Dinkes Pemkot Bandung mencakup penataan lokasi, peralatan, bahan makanan, hingga penerapan prosedur operasional standar (SOP).

"Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang," kata dia.

Dinkes Pemkot Bandung juga menyoroti penerapan sistem first in first out (FIFO) maupun first expired first out (FEFO) dalam penyimpanan dan penggunaan bahan makanan.

"Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net," tutur dia.

Dewi mengatakan, rekomendasi perbaikan telah disampaikan kepada pihak restoran. Selanjutnya, Dinkes akan melakukan pemantauan untuk memastikan rekomendasi tersebut ditindaklanjuti.

"Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya," kata dia.

Rekomendasi