Pesawat-pesawat bertuliskan Batavia Air masih teronggok di sudut bandara-bandara yang ada di Indonesia. Termasuk di Bandara Soekarno Hatta.
Pesawat-pesawat Batavia Air mangkrak bersama bangkai pesawat lain yang sudah tidak terpakai. Debu tebal menghiasi badan pesawat tersebut. Sudah lebih dari delapan bulan pesawat Batavia Air menjadi bangkai di sudut Bandara Soekarno Hatta. Tanpa perawatan dan hanya dibiarkan begitu saja.
Usai dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada Januari 2013, pihak kurator memang belum memutuskan nasib pesawat Batavia Air. Padahal, sudah sejak lama pihak otoritas bandara meminta agar bangkai pesawat dipindahkan. Namun, hingga kini belum ada realisasinya.
Keluhan juga diutarakan Direktur Utama Angkasa Pura I, Tommy Soetomo. Dia mengakui hingga saat ini masih ada beberapa pesawat Batavia Air yang mangkrak dan menjadi bangkai di bandara yang berada di bawah pengawasannya. Keberadaan bangkai pesawat itu jelas merugikan lantaran memakan tempat bandara dan mengganggu aktivitas bandara serta maskapai lainnya.
"Merasa dirugiin jelas, kan sudah bangkrut gitu," kata Tommy ketika ditemui di Cengkareng, Jumat (27/9) malam.
Batavia Air pun harus membayar tagihan ke Angkasa Pura. Namun, Tommy tidak menyeburkan nilai tagihan yang harus dibayar Batavia kepada pihaknya. Pembayaran ini juga langsung berhubungan sama Kurator Batavia.
"Kurator yang bayar, dibayar sama kurator tapi ga total. Sama saja dulu Adam Air, Simpati dulu juga begitu," tutupnya singkat.
Data terakhir sebelum bangkrut, Batavia Air memiliki 33 armada terdiri dari 15 Boeing 737-300, sembilan Boeing 737-400, satu Boeing 737-500, satu Airbus 321, lima Airbus 320, dan dua Airbus 330. Dari jumlah tersebut, 18 pesawat merupakan milik pribadi Batavia Air.