Padatnya arus lalu lintas udara dan sibuknya bandara di Indonesia diakui berdampak pada pemborosan pengeluaran maskapai. Tidak tanggung-tanggung pemborosan biaya karena harus antre saat mendarat dan terbang mencapai 20 persen dari cost awal.
Hal ini diakui oleh Presiden Director Sriwijaya Air, Chandra Lie saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/9).
"Ini problem kami bergerak di bidang penerbangan. Ini bukan hanya kami tapi keluhan dunia. 10-20 persen cost kita hold untuk antre mendarat dan terbang. Pesawat antre pembakaran avtur nasional sangat luar biasa yang tidak dirasakan pemerintah," katanya.
Dia mengaku selalu memberikan masukan agar meminta pemerintah membenahi infrastruktur bandara sekaligus mengatur lalu lintas udara. Namun diakuinya bahwa penyelesaian masalah ini tidak semudah membalik telapak tangan.
Kondisi ini diakui cukup mengganggu masa depan bisnis penerbangan. "Bagaimana usaha bidang penerbangan bisa bersaing? Cost tambahan itu harusnya dipikirkan, cost tambahan pembakaran avtur," tegasnya.
Menurutnya, kelahiran Nam Air telah memikirkan masalah klasik semacam ini. Sehingga, Nam Air sengaja disiapkan menyasar kabupaten dan kotamadya di Indonesia. "2018 tentunya pemerintah akan berbenah diri karena kita negara kepulauan. Antisipasi pesawat ron di kotamadya dan kabupaten. Supaya pembakaran dan pemborosan bisa diminimalisir," kilahnya.