Rombongan Kementerian Perdagangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang milik PT Tunas Sumber Rejeki di Penjaringan, Jakarta Utara. Ada informasi bahwa bawang putih impor menumpuk di sana.
Namun, dari pengakuan Kepala Gudang Hadi, sudah enam bulan terakhir pihaknya malah tidak mendapat pasokan bawang putih. "Kita di sini adanya kemiri, lada, ketumbar, cabai kering. Sudah setengah tahun lebih enggak ada bawang," ujarnya di lokasi sidak, Jumat (15/3).
Hadi mengaku tidak tahu apakah perusahaannya mendapat rekomendasi impor. Dari informasi Kemendag, gudang ini kebagian jatah importasi 2.500 ton. "Saya ini ngurusin gudang, saya kurang tahu proses dokumentasi, tapi kalau dibilang kalau dapat jatah bawang 2.500 ton alhamdulilah, karena sulit carinya akhir-akhir ini," akunya.
Rombongan Kemendag dipimpin Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi. Dia tidak menampik sidak ini dilakukan lantaran Presiden SBY kemarin gerah dengan penanganan lonjakan harga bawang di pasaran.
"Ini masuk situasi force major, harga bawang sudah melampaui batas psikologis," ujarnya.
Selain itu, sidak dilakukan karena ada informasi bahwa gudang di Penjaringan menimbun bawang. Meski tidak terbukti, Kemendag merasa langkah ini strategis untuk mengetahui situasi riil di lapangan.
"Kita ke sini karena ada informasi bawang disimpan, tapi ternyata perusahaan sumber rezeki sudah enam bulan tidak mendapat pasokan, ini salah satu tinjauan lapangan kita," kata Bachrul.
Saat ini rombongan Kemendag menuju lokasi sidak kedua di Jakarta Timur, disinyalir menimbun bawang putih. Kabarnya Menteri Perdagangan Gita Wirjawan akan turut serta dalam inspeksi kedua.
Sidak ini dilaksanakan sehari selepas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono marah dengan kinerja dua kementerian terkait pengendalian harga bawang putih. Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian jadi sasaran kemarahan SBY kemarin.
Sepekan terakhir, harga jual bumbu dapur populer itu mencapai Rp 30.000 sampai Rp 50.000 per kilogram di pelbagai daerah.