Tiga Gempa Besar dalam Satu Hari

Gempa tersebut menimbulkan dampak berbeda di masing-masing daerah.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Tiga Gempa Besar dalam Satu Hari
Tim penyelamat mencari korban di reruntuhan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores di Pelabuhan Laurensius Say di Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026. (AFP/ Arnold Welianto)

Tiga gempa besar mengguncang sejumlah wilayah Indonesia dalam satu hari. Kekuatan gempa bervariatif. Gempa tersebut menimbulkan dampak berbeda di masing-masing daerah.

Gempa pertama terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Gempa berpusat di Nagekeo. Getaran tak hanya terasa di NTT tapi juga Nusa Tenggara Barat, Bali, hingga Sulawesi.

Tak lama setelah gempa, tsunami menyapu sejumlah bibir pantai di wilayah NTT dan Sulawesi. Tempat ibadah, perkantoran, hingga rumah bertumbangan hingga menimpa warga.

Data sementara, 48 orang meninggal dunia, puluhan orang luka-luka dan lebih dari 5.000 warga mengungsi. Wilayah paling terdampak gempa bumi di NTT adalah Manggarai.

Tak hanya memakan korban jiwa, bencana tersebut melumpuhkan listrik, akses internet, dan jalan. Hal itu membuat distribusi alat berat untuk mengevakuasi korban terhambat. Begitu pula dengan bantuan sembako, selimut, dan tenda.

"Jalan longsor di Cibal, sehingga belum ada alat berat dari Ruteng," kata Kapolsek Reo Ipda Joko Sugiarto.

Gempa yang mengguncang NTT identik dengan Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Flores. Patahan ini terbentuk akibat tekanan tektonik dari penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono mengatakan, catatan sejarah menunjukkan Sesar Naik Flores telah memicu sejumlah gempa kuat dan tsunami. Salah satunya gempa M7,0 pada 22 November 1815 yang memicu tsunami di Bali utara dan Lombok.

Gempa M7,0 kembali terjadi pada 13 Mei 1857 dan juga memicu tsunami di Bali dan Lombok. Kemudian gempa Seririt, Bali, M6,6 pada 14 Juli 1976 menewaskan 559 orang dan merusak 67.419 rumah.

Peristiwa besar lainnya terjadi pada 12 Desember 1992. Gempa Flores berkekuatan M7,8 memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 2.500 orang.

Gempa Simalungun dan Parigi Moutong

Pada Sabtu malam, gempa juga mengguncang Simalungun dan Parigi Moutong. Gempa Simalingun terjadi pada pukul 17.54 WIB.

Pusat gempa berada di daratan Sumatera Utara, tepatnya pada koordinat 2,97 derajat Lintang Utara dan 98,95 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 163 kilometer.

Episenter gempa berada 10 kilometer tenggara Simalungun, 12 kilometer barat laut Pematangsiantar, 44 kilometer barat daya Tebing Tinggi, dan 76 kilometer tenggara Medan, Sumut.

Getaran gempa dirasakan cukup kuat oleh warga di Simalungun, Pematangsiantar, Tebing Tinggi, hingga Kota Medan dan sekitarnya.

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Kedalaman 163 kilometer membuat gempa ini tergolong gempa menengah yang tidak memicu gelombang tsunami.

Namun, warga di kawasan Jalan Sisingamangaraja, Medan, Jafar, merasakan guncangan cukup kuat saat berada di rumah.

"Cukup kuat terasa guncangannya,” ucap Jafar.

Imbas gempa tersebut, seluruh perjalanan kereta api dihentikan sementara.

Menjelang pergantian hari, gempa mengguncang Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Gempa terjadi sekitar pukul 23.25 WITA. Sama seperti di Simalungun, gempa bumi itu juga tidak berpotensi tsunami.

BMKG melaporkan gempa terjadi berada pada koordinat 0.25 Lintang Utara, 120.22 Bujur Timur atau 74 kilometer Barat Daya Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulteng. Lindu tersebut diketahui memiliki kedalaman 44 kilometer.

Rekomendasi