Inflasi bulan lalu atau Januari 2013 yang menembus 1,03 persen merupakan yang tertinggi sejak lima tahun terakhir. Kementerian Perdagangan menyatakan penyebabnya adalah kenaikan harga bahan makanan segar.
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan, masyarakat miskin yang paling terkena dampak inflasi tersebut. Sebab, belanja masyarakat miskin sebagian besar untuk membeli bahan makanan seperti beras, cabai, dan telur ayam.
"Harga makanan memiliki peran besar terhadap pengeluaran masyarakat berpenghasilan rendah. Konsumsi untuk makanan mencapai 58 persen dari pengeluaran masyarakat miskin," ujar Bayu di kantornya, Senin (4/2).
Kenaikan harga komoditas pangan segar itu terjadi lantaran banjir yang melumpuhkan Jakarta, serta adanya gelombang laut tinggi di pelbagai selat selama Januari lalu.
Harga bahan makanan segar yang paling mendongkrak inflasi adalah ayam ras (naik 0,14 persen), ikan segar (0,12 persen), cabe merah (0,11 persen), telur ayam (0,07 persen), dan daging sapi (0,01 persen).
Bayu menegaskan harga makanan olahan tidak terganggu karena tidak ada keharusan distribusi cepat seperti halnya makanan segar.
"Jadi memang yang paling memberi pengaruh adalah bahan makanan segar. Distribusi terganggu 1-2 hari, akibat banjir orang-orang responnya kan darurat, masak habis kebanjiran mikirnya mau beli ayam," paparnya.
Sebagai langkah antisipasi kejadian serupa di masa mendatang, Bayu menyatakan sudah menyiapkan sentra penimbunan komoditas. Tujuannya, jika terjadi bencana, bahan pangan segar bisa dipasok secara cepat.
Intervensi ini dilakukan Kemendag agar harga pangan tidak naik setelah bencana dan meningkatkan inflasi.
"Kalau terjadi gangguan distribusi kita akan lakukan intervensi. Dalam jangka waktu 6-12 jam kita pastikan barang bisa sampai di lokasi yang terganggu," kata Bayu.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, inflasi bulan lalu, meningkat 4,57 persen. Selain harga pangan segar selepas banjir Jabodetabek, kabar kenaikan tarif listrik juga mendorong peningkatan inflasi sebesar 13 persen.