Hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat sejak akhir tahun lalu merenggang. Pasalnya pihak Paman Sam melaporkan kebijakan pembatasan impor produk hortikultura ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Meski beberapa kali menyatakan pelaporan itu sifatnya tidak konfrontatif dan hanya sebagai ajakan dialog, rupanya perang dingin tetap terasa antara perwakilan kedua negara. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Duta Besar Amerika untuk Indonesia Scot Marciel rupanya saling sindir mengenai kebijakan impor.
Dubes AS menyatakan impor seharusnya tidak selalu dimusuhi. Meski tidak secara spesifik merujuk pada kasus yang sedang terjadi dengan Indonesia, Marciel menjelaskan mengapa pihaknya mempermasalahkan setiap upaya proteksi impor. "Orang bicara perdagangan melulu hanya membahas ekspor. Impor sering dipandang negatif, padahal impor bisa meningkatkan daya saing, bahkan perusahaan yang tidak memiliki saingan akan kehilangan daya kompetitif," ujarnya saat membuka acara Trade Conference, di Jakarta Pusat, Rabu (30/1).
Marciel lantas mencontohkan Hong Kong sebagai model negara yang menerapkan sistem perdagangan bebas tanpa memproteksi produk impor. Dia menunjukkan negara bekas jajahan Inggris itu kini makmur karena berhasil mengelola impor. Dubes AS juga menyatakan impor bisa membuat harga barang di pasaran membaik.
Di forum sesudahnya, Gita balas menyatakan impor baik, asal bisa membantu sebuah negara merangkak di rantai nilai. Karena itu dia tidak mempermasalahkan neraca perdagangan defisit tahun lalu, karena hal itu disebabkan banyaknya impor barang modal.
"Jika yang diimpor adalah bahan baku dan barang modal, berarti banyak pabrik dibuka, dan Indonesia semakin merangkak naik dalam rantai nilai perdagangan dunia," ujarnya.
Selain itu, dia menyindir sikap warga Amerika yang sensitif dengan sikap proteksi negara luar. Dia juga menyebut negeri adidaya ini kurang paham esensi perdagangan yang adil. "Konon lebih banyak orang Amerika yang lebih percaya UFO dibanding fair trade," cetusnya.
Selain itu menyebut sulit meyakinkan rakyat bahwa tidak membatasi impor sebagai langkah yang baik. "Saya harus yakin bahwa warga Kebumen, Sidoarjo, Mamuju, Biak, memahami apa yang dimaksud perdagangan adil," pungkasnya.