Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengimbau maskapai dan pilot AS berhati-hati saat terbang di dalam atau di sekitar Arab Saudi menyusul serangan mematikan yang diklaim kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Serangan itu berimbas pada penutupan Bandara Riyadh.
Mengutip CNBC, Selasa (13/10/2026), Bandara Internasional King Khalid di Riyadh masih ditutup hingga Senin setelah rangkaian serangan yang dimulai pekan lalu. Eskalasi terjadi pada Sabtu ketika sebuah proyektil menghantam terminal penumpang, menurut pejabat setempat, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya.
Sejumlah maskapai menangguhkan penerbangan ke Bandara Riyadh, dengan beberapa di antaranya memperpanjang penangguhan layanan hingga akhir pekan. Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara lain juga mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke wilayah tersebut.
Pada Minggu malam, FAA menyatakan para pilot harus "berhati-hati" saat berada di dalam atau di sekitar Arab Saudi "karena adanya risiko keselamatan penerbangan yang terkait dengan aktivitas militer yang sedang berlangsung" serta masalah pada sistem navigasi. FAA menyebutkan bahwa ancaman tersebut dapat menimbulkan risiko potensial "bagi pesawat di semua ketinggian." Peringatan FAA ini berlaku hingga 10 Desember.
Meski sebagian besar maskapai AS tidak melayani rute ke Arab Saudi, jumlah penerbangan dan penumpang ke negara itu meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut perusahaan data penerbangan OAG, rute Riyadh–Jeddah menjadi rute penerbangan tersibuk kelima di dunia pada tahun lalu.
Delta Air Lines sebelumnya dijadwalkan memulai penerbangan nonstop perdana dari Atlanta ke Riyadh pada 23 Oktober. Namun pada Senin, maskapai tersebut menyatakan layanan itu akan ditunda hingga Maret.