BBM Langka di Bali, Bahlil: Stok Nasional Aman 18 Hari

Bahlil menyatakan stok BBM nasional aman 16–18 hari, tetapi gangguan distribusi menyebabkan kelangkaan di Bali. Dirut Pertamina sudah dikirim ke lokasi.

Lizsa Egeham
Oleh Lizsa Egeham - Reporter
BBM Langka di Bali, Bahlil: Stok Nasional Aman 18 Hari
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan stok bahan bakar minyak (BBM) di tingkat nasional dalam kondisi aman.

"Kalau stok nasional itu kita di angka 16 sampai 18 hari, jadi masih clear, enggak ada masalah secara stok-stok nasional," kata Bahlil usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Permasalahan yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU di Bali, menurut Bahlil, berkaitan dengan proses penyaluran, bukan ketersediaan BBM. "Di Bali, Pak Simon sudah di sana, Pak Dirut Pertamina. Karena kita tahu bahwa pemerintah kan regulator, implementasi daripada itu semua adalah BUMN, dalam hal ini Pertamina," ujarnya.

Bahlil mengatakan dirinya masih menunggu laporan lengkap dari Direktur Utama Pertamina dan pejabat terkait di lapangan sebelum mengambil langkah lebih jauh.

"Jadi mungkin distribusinya yang ada sedikit mengalami terkendala. Itu yang sebentar saya akan rapat," tutur dia. Ia juga menambahkan, "Saya rapat dulu ya, saya rapat dulu dengan mereka baru saya tahu, ya. Saya akan, saya akan bukan pegawai yang membawa kapal ya. Nanti kita atur baik-baik ya," sambung Bahlil.

Terkait harga, Bahlil menegaskan tidak ada perubahan untuk BBM bersubsidi, sedangkan BBM non-subsidi akan bergerak mengikuti harga minyak dunia.

"Harga untuk harga untuk subsidi masih tetap tidak ada perubahan apa-apa. Kalau harga menyangkut dengan BBM yang di luar subsidi, itu pasti akan terjadi fluktuatif berdasarkan harga perkembangan dunia, ya," jelas Bahlil.

Kendala Proses Distribusi BBM

Antrean kendaraan di SPBU di beberapa lokasi Bali muncul setelah terjadi keterlambatan kedatangan kapal pengangkut BBM. Kementerian ESDM menyatakan ketahanan stok nasional masih berada pada level aman dan mendorong percepatan penyaluran untuk merespons gangguan pasokan di lapangan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan penyebab antrean itu berkaitan langsung dengan proses pengiriman.

"Iya, itu masalah proses distribusi saja. Jadi kemarin memang ada keterlambatan kapal. Kapalnya sudah tiba, sejak di sana kemarin sudah dilakukan operasi pasar 24 jam. Semoga, mungkin hari ini atau besok sudah selesai permasalahannya," ujar Laode saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (14/10/2026).

Laode menyebutkan angka ketahanan stok saat ini berada di kisaran 18--20 hari, sehingga gangguan yang terjadi lebih disebabkan oleh pola distribusi, termasuk pengaturan pengiriman dan penyaluran di lapangan. "Ketahanan masih aman, 18-20. Jadi masalah yang ada ini lebih disebabkan oleh pola distribusi karena musim," katanya.

Cuaca dan Transportasi Jadi Penghambat

Menurut Laode, faktor cuaca dan kondisi transportasi menjadi tantangan utama, terutama untuk wilayah yang mengandalkan jalur perairan atau sungai. Saat debit air menurun atau gelombang tinggi terjadi, kapal pengangkut BBM mengalami kesulitan bersandar sehingga proses bongkar muat tertunda.

Dalam kondisi debit air rendah, pengiriman yang biasanya memakai angkutan sungai terpaksa dialihkan ke truk dengan kapasitas lebih kecil sehingga waktu pengiriman membesar. Hal serupa juga terjadi saat gelombang tinggi menghalangi kapal untuk melakukan sandar di pelabuhan tujuan.

Laode mengatakan setelah kapal bisa sandar, penyaluran langsung dikejar melalui operasi selama 24 jam. "Tapi begitu sudah nyender, kayak di Bali kemarin, langsung dilaksanakan distribusi 24 jam. Jadi dikejar," ujar Laode.

Ia menambahkan bahwa persoalan distribusi tidak hanya terjadi di Bali tetapi juga dialami di Makassar. "Sama-sama, ini yang saya jelaskan ini penyebab untuk semua, bukan hanya masalah Bali kemarin juga kan di Makassar, saya ke sana juga sama relatiflah permasalahan-permasalahan gitu," katanya.

Rekomendasi