Berdasarkan perhitungan produksi minyak Indonesia yang membutuhkan 3 liter per hari per kapita, maka cadangan minyak dalam negeri hanya tinggal 12 tahun mendatang.
"Kita sering meyakini bahwa Indonesia ini negara yang kaya minyak, tapi berdasarkan fakta tidak," katanya dalam diskusi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (02/6).
Dia menyatakan Indonesia hanya memiliki cadangan minyak sebesar 4,2 miliar barel, jauh di bawah negara kaya minyak seperti Arab Saudi yang mencapai 300 miliar barel dan Norwegia sebesar 200 miliar barel.
"Dengan cadangan terbukti 4,2 miliar barel, dibagi rata dengan penduduk Indonesia maka jatah per kapita masyarakat Indonesia hanya 3 liter per hari selama 12 tahun nanti," ujarnya.
Secara keseluruhan, potensi minyak Indonesia masih besar, sebesar 50 miliar barel, namun itu membutuhkan biaya eksplorasi yang besar untuk membuktikan potensi minyak tersebut. "Indonesia masih tergantung perusahaan minyak dan gas asing karena membutuhkan modal," katanya.BUMN masih mempunyai beban yang berat, dari BBM subsidi hingga LPG subsidi.
Komaidi mengatakan peraturan dalam negeri yang belum bersahabat dengan perusahaan migas asing, terkait cost recovery memberatkan investasi dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas. "Menyerahkan kepada asing bukan hal yang haram, asalkan ada alih teknologi dan menggandeng BUMN sambil secara jangka panjang ada pembenahan," ujarnya.