PT PLN (Persero) mengaku terus menerus mengalami kerugian karena tingginya biaya operasional. Kerugian tersebut lantaran keterlambatan pembangunan pipa gas di lapangan Kepodang yang mengakibatkan PLTGU Tambak Lorok masih menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Kalau semakin lama, kami akan semakin merugi karena terus pakai BBM. Sebab, pasokan gas 116 mmscfd tersebut setara dengan pemakaian BBM 250 kiloliter per hari. Apalagi, pada 2014 nanti tampaknya pipa Kalija belum rampung menilik belum ada persiapan pembangunan sama sekali," ujar Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas Suryadi Mardjoeki di Jakarta, Rabu (9/5).
PLN, kata dia, telah menyiapkan Gas Supply Agreement (GSA) sebagai alternatif pasokan gas Kepodang ke PLTGU Tambaklorok. GSA tersebut diperkirakan rampung pada 15 Mei nanti.
Dengan harga di kepala sumur USD 4,61 per mmbtu, PLN akan membayar USD 5,3-5,5 per mmbtu di pembangkit termasuk biaya transportasi. "Besok akan saya tanda tangan dan dikembalikan ke BP Migas," tegas Suryadi.
Namun, pembangunan pipa yang menghubungkan Lapangan Kepodang dan PLTGU Tambaklorok ini tidak akan bisa dimulai tanpa penyelesaian Gas Transport Agreement (GTA) terlebih dahulu. Pemerintah berjanji, dalam kurun waktu 22 bulan setelah perjanjian tersebut ditandatangani, pipa Kalija sudah terbangun.
"Jika tahun ini GTA bisa segera diteken, maka pengoperasian Kalija masih bisa pada 2013. Tetapi jika penandatanganan GTA mundur, maka proyek dipastikan mundur," tambahnya.