Pabrik teh Kayu Aro, yang berlokasi di Kabupaten Kerinci, Jambi, secara konsisten memastikan kualitas ekspor produknya tetap terjaga melalui serangkaian pengawasan ketat dan berjenjang. Komitmen ini diwujudkan dengan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan.
Prosedur baku tersebut menjadi pedoman utama bagi seluruh alur produksi, mulai dari perawatan kebun hingga pengemasan akhir, demi menjaga mutu teh yang dihasilkan. Langkah ini krusial untuk merawat kepercayaan konsumen baik di pasar domestik maupun internasional yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Manajemen Pabrik Teh Kayu Aro menekankan bahwa setiap tahapan produksi dilakukan sesuai ketentuan, memastikan setiap pucuk teh diolah menjadi produk berkualitas tinggi. Hal ini melibatkan peran penting dari para pekerja ahli dan teknologi modern yang terintegrasi dalam seluruh proses.
Advertisement
Advertisement
Untuk menghasilkan teh dengan kualitas prima yang siap ekspor, Pabrik Teh Kayu Aro menerapkan sistem pengawasan berjenjang yang sangat ketat. Setiap lini produksi diawasi secara cermat, mulai dari pemilihan pucuk teh hingga proses pengeringan dan pengemasan.
Mandor pengolahan pabrik teh Kayu Aro, Heri Prayitno, menjelaskan bahwa semua kegiatan terkait alur produksi sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh perusahaan. Pedoman ini mencakup setiap detail, memastikan tidak ada penyimpangan yang dapat memengaruhi kualitas akhir produk.
Perawatan rutin terhadap kebun teh, termasuk proses panen yang tepat, menjadi fondasi awal dalam menjaga kualitas. Setelah dipanen, pucuk teh akan melalui proses pengolahan yang baik, mempedomani Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh PTPN IV Regional 4 unit usaha Kayu Aro.
Advertisement
Advertisement
Proses pengolahan teh di Pabrik Teh Kayu Aro mengandalkan teknologi modern, salah satunya adalah metode Crushing Tearing and Curling (CTC). Sebelum melalui tahap pencabikan, pemotongan, dan penggilingan, pucuk teh lebih dulu melewati proses pelayuan yang bertujuan mengurangi kadar air yang terkandung pada daun.
Proses pelayuan ini memerlukan waktu antara delapan hingga sembilan jam untuk mencapai kondisi optimal. Setelah layu, daun teh kemudian digiling menggunakan mesin penggiling otomatis yang dilengkapi rol silinder bergigi tajam hingga menjadi halus dan siap untuk tahap selanjutnya.
Heri Prayitno menambahkan, "Proses ini menggunakan teknologi mesin, pekerja yang terlibat sedikit, gigi mesin penghalus hanya bisa digunakan antara 40 hingga 50 jam. Setelah itu ditajamkan lagi pakai mesin di workshop." Hal ini menunjukkan investasi pada teknologi dan perawatan mesin untuk menjaga efisiensi dan kualitas produksi.
Advertisement
Advertisement
Sebelum dikemas dan didistribusikan, setiap batch teh wajib menjalani uji laboratorium sesuai dengan prosedur standar yang berlaku. Petugas pengambilan sampel, Elsa Lingga Pradesa, menegaskan pentingnya tahapan ini untuk memastikan mutu produk.
Teh produksi Kayu Aro digolongkan menjadi enam cita rasa berbeda, meskipun semuanya termasuk dalam kategori teh hitam. Perbedaan rasa ini tercipta dari fermentasi pada suhu tertentu yang menghasilkan enzim-enzim berbeda, membentuk karakteristik rasa dan warna unik pada setiap jenis teh.
Jenis-jenis teh yang dihasilkan meliputi:
Advertisement
- Broken Orange Pecco (BOP)
- Pecco Fanning (PF)
- Broken Tea (BT)
- Broken Pecco (BP)
- Dust
Elsa menambahkan, "Sebelum dikirim, kualitas teh di uji terlebih dahulu, memastikan mutu tetap baik. Petugas khusus melakukan tes ada lima orang, selalu mengikuti pelatihan rutin. Lidah kami sudah terbiasa membedakan rasa teh." Keahlian panelis ini menjadi jaminan terakhir sebelum teh Kayu Aro dikirim ke pasar global.
Sumber: AntaraNews
Advertisement