Boston Consulting Group (BCG), perusahaan konsultan asal Amerika Serikat, dilaporkan telah merancang rencana untuk "memindahkan" warga Palestina dari Gaza. Rencana ini, yang dikenal dengan nama kode "Aurora", bertujuan untuk memodelkan keuangan rekonstruksi pasca-perang di wilayah tersebut.
Dilansir dari Financial Times, dalam salah satu skenario yang diajukan, BCG memperkirakan relokasi sekitar 500.000 warga Palestina dengan paket relokasi senilai USD9.000 per orang atau sekitar Rp145.728.927. Total biaya yang diperkirakan mencapai sekitar USD5 miliar, mencakup uang tunai, subsidi sewa selama empat tahun, dan subsidi makanan selama satu tahun.
Model ini menunjukkan bahwa tiga perempat dari mereka yang direlokasi tidak akan kembali ke Gaza. Meskipun BCG mengklaim bahwa proyek ini dilakukan tanpa persetujuan manajemen senior, penyelidikan menunjukkan keterlibatan signifikan mereka dalam proyek senilai lebih dari USD4 juta selama tujuh bulan.
Advertisement
Keterlibatan BCG dalam proyek relokasi ini telah memicu kontroversi besar. Banyak pihak mengkritik rencana tersebut sebagai potensi pelanggaran hukum internasional dan upaya pembersihan etnis. Rencana ini masih dalam tahap permodelan dan belum diimplementasikan, namun telah menimbulkan keprihatinan serius mengenai implikasi etis dan hukumnya.
Para kritikus menyoroti bahwa model yang diajukan BCG dapat memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza. Rencana ini dianggap tidak sensitif terhadap kebutuhan dan hak-hak warga Palestina yang sudah menderita akibat konflik yang berkepanjangan.
BCG juga terlibat dalam pendirian Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah inisiatif yang didukung oleh AS dan Israel untuk penyaluran bantuan di Gaza. Namun, operasi GHF telah dikritik karena menyebabkan kematian ratusan warga Palestina yang berusaha mengakses bantuan.