Advertisement
Pria yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah itu merupakan pemilik Jaya Group, Metropolitan Group dan Ciputra Group, alm. Ir. Ciputra.
Sebelum sukses menjadi raja properti, beliau banyak melewati masa kelam semasa kecil. Saat berusia 12 tahun, beliau kehilangan ayahnya yang ditangkap oleh polisi Jepang karena dituduh sebagai mata-mata Belanda dan tidak pernah kembali lagi.
Advertisement
Untungnya, beliau adalah sosok anak yang cerdas. Beliau memutuskan untuk merantau ke Pulau Jawa dan melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung, sekolah teknik ternama di Indonesia.
Semasa berkuliah, beliau mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan bersama kedua temannya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan. Karena tak punya modal yang banyak, kantornya hanya didirikan di sebuah garasi mobil.
Ketika lulus dari ITB di tahun 1960, beliau mengawali karier di PT Pembangunan Jaya, perusahaan daerah milik Pemda DKI Jakarta. Kala itu, dia mendapatkan kesempatan untuk terjun langsung dalam proyek Pasar Senen dan Ancol.
Kariernya baru melesat di tahun 1970-an ketika mendirikan Metropolitan Group bersama Sudono Salim, Sudwikatmono, Budi Brasali dan Ibrahim Risjad dengan membangun perumahan elit di Politik Indah dan Kota Mandiri Bumi, Serpong Damai.
Advertisement
Advertisement
Di tahun 1980 beliau kembali membangun Ciputra Group bersama keluarganya yang kini berkembang menjadi kerajaan properti di Indonesia. Bahkan, keluarga Ciputra menjadi orang terkaya di Indonesia tahun 2022 dengan total kekayaan senilai Rp18,5 triliun.
Advertisement
Namun, jasa-jasanya dalam mendirikan gurita bisnis tak akan pernah terlupakan. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai sosok filantropis yang fokus pada bidang pendidikan.
Advertisement