Otak-Atik Gaji PNS untuk Bertahan Hidup, Pilih Tahan Belanja dan Porsi Tabungan Terkuras

Chani pun harus mengorbankan sebagian uang tabungannya untuk menutup berbagai kebutuhan rumah tangga.

Siti Ayu Rachma
Oleh Siti Ayu Rachma - Reporter
Otak-Atik Gaji PNS untuk Bertahan Hidup, Pilih Tahan Belanja dan Porsi Tabungan Terkuras
Otak-Atik Gaji PNS untuk Bertahan Hidup, Pilih Tahan Belanja dan Porsi Tabungan Terkuras (Merdeka.com)

Meski berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu instansi pemerintah pusat, Chani tetap harus memutar otak agar gaji bulanannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Di tengah tekanan ekonomi yang makin terasa, dia mulai merasakan penurunan daya beli, baik dari dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.

"Belakangan ini daya beli mulai menurun dan terkesan orang di sekitar bahkan dirinya menahan untuk tidak terlalu mengeluarkan banyak uang," ujar Chani kepada merdeka.com, Kamis (15/5).

Tidak hanya itu, Chani pun harus mengorbankan sebagian uang tabungannya untuk menutup berbagai kebutuhan rumah tangga. Menghadapi situasi ini, dia mulai membedakan dengan tegas antara kebutuhan dan keinginan.

"Gaji yang diterima dibuat cukup dan bergaya hidup sesuai dengan pendapatan yang diterima,” katanya.

Konsumsi rumah tangga di Indonesia memang menunjukkan tren penurunan yang signifikan pada awal tahun 2025, mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang tidak menentu. Menurut data Bank Indonesia (BI), pada kuartal I-2025, konsumsi rumah tangga tumbuh hanya 4,89 persen year-on-year (YoY), angka terendah dalam lima kuartal terakhir.

Untuk bertahan hidup, banyak masyarakat yang hidup dengan 'makan tabungan' sebagaimana yang dirasakan Chani harus menggunakan uang simpanannya untuk memenuhi kebutuhan sehari.

Hal itu ternyata terlihat juga pada penurunan proporsi tabungan masyarakat. Bank Indonesia (BI) melalui Survei Konsumen periode April 2025 menunjukkan bahwa masyarakat cenderung mengurangi dana yang dialokasikan untuk ditabung. Pada April 2025, proporsi tabungan tercatat sebesar 14,8 persen, turun dibandingkan April 2024 yang masih berada di angka 16,7 persen.

Chani pun melakukan rekonstruksi ulang terhadap berbagai pos pengeluaran rumah tangganya. Dia mulai melakukan efisiensi di sejumlah kebutuhan agar yang penting tetap terpenuhi.

Bahkan Chani mengaku telah mengubah moda transportasinya, dari semula menggunakan mobil pribadi menjadi beralih ke transportasi umum, motor seperti ojek online (Ojol), atau menumpang bersama rekan yang searah.

"Salah satu contoh merubah pola makan anak agar tetap bergizi imbang, mengubah moda transportasi, mengubah gaya hidup dan mengurangi pengeluaran yang bersifat keinginan,” jelasnya.

Dia menyebut, pengeluaran menggunakan mobil pribadi bisa memakan Rp150.000 per minggu. Jika dibandingkan dengan menggunakan transportasi umum maupun ojol jauh lebih hemat dan bisa mengpress bugdetnya.

Namun begitu, baginya, kunci bertahan dalam situasi ekonomi saat ini adalah menyesuaikan gaya hidup dengan pendapatan. "Bila ada bonus seperti gaji ke-13 atau THR menjadi pos cadangan untuk dana darurat," imbuhnya.

Tekanan ekonomi semakin terasa setelah momen Lebaran dan menjelang tahun ajaran baru. Chani mengaku pos tabungannya terpaksa dikurangi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

"Sangat terasa daya beli turun karena seluruh sektor mengalami pelemahan dan menahan uang," katanya.

Meski begitu, dia tetap berusaha disiplin dalam pengelolaan keuangan. Tabungan tetap ia pisahkan dalam beberapa pos penting. "Untuk tabungan dipisahkan dalam beberapa pos, dana darurat, pendidikan, investasi dan tak terduga. Sebisa mungkin tak terduga hanya 10 persen dari THP," ujarnya.

Rincian Pengeluaran Sebagai PNS

Dirinya pun merincikan pengeluaran selama sebulannya dari gaji yang didapat:

•⁠ ⁠Sekolah untuk 2 anak (termasuk les, jajan, hingga ongkos) Rp6.000.000 per bulan

•⁠ ⁠ongkos pribadi Rp600.000 per bulan

•⁠ ⁠Listrik Rp300.000 per bulan

•⁠ ⁠Belanja kebutuhan sehari-hari Rp2.000.000 per bulan

•⁠ ⁠Pembantu Rp1.500.000 per bulan

•⁠ ⁠Tabungan Rp2.000.000 per bulan

•⁠ ⁠Kebutuhan peralatan mandi dan lain-lain Rp500.000 per bulan

•⁠ ⁠Wifi rumah Rp300.000 per bulan

•⁠ ⁠Kouta pribadi Rp100.000 per bulan

Senada dengan Chani, Ongga yang juga berprofesi sebagai PNS di salah satu rumah sakit turut merasakan dampak dari penyesuaian ekonomi belakangan ini. Meski belum berkeluarga, dia tetap harus cermat dalam mengelola pendapatannya.

"Untuk saat ini, gaji yang saya terima masih cukup untuk memenuhi kebutuhan harian berhubung saya belum berkeluarga," kata Ongga kepada merdeka.com.

Namun, Ongga tak menampik bahwa proporsi dana untuk tabungan mulai bergeser. "Untuk saat ini, saya memang belum menggunakan tabungan yang sudah ada untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi alokasi dana tabungan memang menjadi lebih kecil dibandingkan tahun lalu, proporsinya digeser untuk kebutuhan/biaya hidup,” jelasnya.

Sesuai data Bank Indonesia, jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, masyarakat dengan pengeluaran Rp1-2 juta hanya mampu menabung sekitar 14 persen dari pendapatannya.

Sementara itu, untuk kelompok dengan pengeluaran Rp2,1-3 juta, proporsi tabungan naik sedikit menjadi 14,5 persen. Pada kelompok pengeluaran Rp3,1-4 juta, rasio tabungan tercatat sebesar 15,3 persen.

Sedangkan mereka yang memiliki pengeluaran Rp4,1-5 juta menyisihkan 14,8 persen, dan kelompok dengan pengeluaran lebih dari Rp5 juta mampu menabung sebesar 16,5 persen dari pendapatan mereka.

Perubahan gaya hidup juga mulai terlihat dalam kesehariannya, terutama sejak ada imbauan efisiensi anggaran di instansinya. Karena hal itu, dia pun harus rela mengurangi pengeluaran yang bersifat hiburan seperti nongkrong, hingga nonton bioskop.

"Ada perubahan pola belanja dalam beberapa bulan terakhir, khususnya sejak pengumuman efisiensi. Saya mengurangi pengeluaran tersier/yang bersifat hura-hura seperti konsumsi jajan/makan di luar, nongkrong, dan nonton di bioskop," katanya.

Tren menurunnya tabungan ini juga diperkuat oleh temuan riset Katadata Insight Center (KIC) yang mengungkap bahwa banyak kalangan kelas menengah memilih bertahan hidup dengan makan tabungan ketimbang berutang. Mereka cenderung menolak opsi pinjaman berbunga meski dihadapkan pada tekanan finansial.

Sebanyak 70 persen responden riset tersebut menyatakan melakukan perencanaan keuangan secara aktif. Satu dari dua responden memisahkan anggaran untuk tagihan dan kebutuhan harian. Lebih dari 40 persen juga secara rutin mencatat pengeluaran mereka.

Meski kebutuhan hariannya masih bisa ditopang oleh gaji bulanan, Ongga mengakui bahwa kondisi tahun ini berbeda dari sebelumnya.

"Saat ini gaji bulanan masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri,” tuturnya.

Namun dia menambahkan, jika dibandingkan tahun lalu, daya beli di tahun ini memang mengalami penurunanan. Apalagi dengan adanya efisiensi di pemerintahan dan ketidakpastian perekonomian.

"Saya memilih untuk mengerem belanja di luar kebutuhan pokok dan menyimpan uang (menabung) untuk jaga-jaga.”

Dia mengaku sebagian besar tabungannya kini dialihkan dari kebutuhan tersier. "Tabungan digunakan untuk kebutuhan tersier seperti liburan/menonton konser. Tabungan yang ada memang tidak digunakan langsung untuk memenuhi kebutuhan harian tetapi jumlah uang yang ditabung sekarang lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," jelas Ongga.

Dari sisi transportasi, Ongga tidak mengalami perubahan besar untuk mobilitas harian karena dia tinggal di kosan yang berlokasi dekat dengan tempat kerja. "Untuk transportasi ke tempat kerja memang tidak ada pergeseran karena saya ngekos dan lokasi kos dekat sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki," katanya.

Namun, dia mengaku mulai lebih berhati-hati saat bepergian untuk keperluan lain.

"Transportasi untuk keperluan di luar kerja (main, dan sebagainya) ada pergeseran. Biasanya saya akan naik ojek online langsung dari kos ke tempat tujuan, sekarang saya lebih memilih mengecek gmaps terlebih dahulu untuk mencari moda transum," ujarnya.

Dari sisi tanggungan keluarga, Ongga menyampaikan ia sudah tidak lagi menanggung kebutuhan orang tua secara penuh karena semua saudara kandungnya sudah bekerja. Meski begitu, kontribusi tetap ia berikan secara fleksibel.

"Porsi gaji yang diberikan kepada orangtua bisa berbeda tiap bulannya tergantung besarnya kebutuhan bulanan dan kesepakatan dengan saudara lainnya," jelasnya.

Adapun alokasi tabungan Ongga mengaku sebelum tekanan daya beli yang menurun ini dia mampu menabung 15-20 persen dari gaji yang didapatnya. Namun untuk saat ini dia hanya bisa menyisihkan sekitar 10 persen dari gaji.

"Kalau sebelumnya bisa 15–20 persen dari gaji, kalau beberapa bulan terakhir ini hanya sekitar 10 persen," terang Ongga.

Diapun merincikan pengeluaran harian dan bulanan sebagai berikut:

Pengeluaran hariaan

•⁠ ⁠Makan (hari kerja) +/- Rp20.000- Rp25.000

•⁠ ⁠Jajan (hari kerja) +/- Rp25.000 - Rp50.000

•⁠ ⁠Mkan & jajan (hari libur) +/- Rp250.000 - Rp350.000

•⁠ ⁠Transportasi (hari libur) +/- Rp100.000 - Rp150.000

Pengeluaran bulanan

•⁠ ⁠Makan + jajan +/- Rp2 - Rp3 juta

•⁠ ⁠Transportasi +/- Rp500 - Rp750 ribu

•⁠ ⁠Household +/- Rp1 juta

•⁠ ⁠Kos Rp1.8 juta per bulan

•⁠ ⁠Kouta pribadi Rp100 ribu per bulan.

Rekomendasi