Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di angka 5 persen dianggap belum mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup.
Angka tersebut masih terlalu rendah untuk menekan tingkat pengangguran yang terus bertambah setiap tahun.
Purbaya mengungkapkan, banyak masyarakat yang akhirnya memilih bekerja di sektor informal karena sulit menemukan pekerjaan tetap.
Padahal, sektor informal tidak mampu memberikan kesejahteraan jangka panjang seperti halnya sektor formal.
"Kalau 5 persen itu tidak cukup untuk menyerap tenaga kerja yang masuk usia kerja setiap tahun. Sekarang 5 persen kenapa pengangguran turun? Karena kerjanya informal kan. Desain ekonomi enggak seperti itu, kita enggak mau warga negara kita kerjanya di informal. Kalau bisa semuanya kaya di sektor formal,” kata Purbaya dalam Sarasehan 100 Ekonom INDEF, di Jakarta, Selasa (28/10).
Menurut perhitungan Purbaya, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 6,7 persen untuk dapat menampung seluruh angkatan kerja baru di sektor formal.
Advertisement
Optimis Capai 6 Persen
Namun, tantangan besar menghadang. Sejak krisis ekonomi 1998, Indonesia belum pernah lagi mencapai pertumbuhan setinggi itu. Imbasnya, sebagian besar tenaga kerja baru tidak terserap secara optimal, sehingga angka pengangguran tetap tinggi.
Purbaya menegaskan, kunci untuk mencapai target tersebut terletak pada penguatan sektor swasta. Ia yakin, jika mesin ekonomi nasional bisa kembali bergeliat melalui investasi dan industri produktif, pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 persen bukan hal yang mustahil.
"Jadi kita harus ciptakan pertumbuhan yang lebih cepat. hitung-hitungannya berapa jadi potential growth-nya? Untuk sekarang mungkin 6,7 persen. Jadi kita harus tumbuh di situ. Harus tumbuh di sekitar 6,7 persen minimal untuk menyerap tenaga kerja yang masuk usia kerja di sektor formal," pungkasnya.
Advertisement
Tak Naikkan Pajak
Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan alasan tidak menaikkan pajak pasca dirinya dipercaya Presiden Prabowo Subianto untuk memimpin Kementerian Keuangan pada awal September lalu.
Purbaya mengatakan, hal itu dikarenakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini tengah mengalami perlambatan.
Menurutnya, perlambatan tersebut tidak semata disebabkan oleh faktor global, tetapi juga akibat kebijakan ekonomi yang kurang tepat sasaran.
"Jadi, ketika ekonomi jatuh seperti itu, kalau kita kenakan pajak dimana-mana semuanya buka countercyclical, itu pro," pungkasnya.