Laporan Oxfam: Orang Kaya Semakin Bertambah kaya, Kesenjangan dengan Orang Miskin Makin Parah

Dalam laporan tersebut, dinyatakan bahwa 1 persen orang terkaya kini menguasai 45 persen kekayaan global.

DW
Oleh DW - Reporter
Laporan Oxfam: Orang Kaya Semakin Bertambah kaya, Kesenjangan dengan Orang Miskin Makin Parah
Ilustrasi uang dolar/Pixabay (© 2025 Liputan6.com)

Kesenjangan di dunia semakin melebar akibat 'oligarki aristokrat' yang dengan cepat mengakumulasi kekayaan. Hal ini terungkap dalam laporan Oxfam yang dirilis pada Senin (20/1).

Menjelang berlangsungnya Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, laporan berjudul 'Takers Not Makers' mencatat bahwa kekayaan para orang kaya dunia meningkat sebesar USD 2 triliun (sekitar Rp32.720 triliun) pada tahun 2024, dengan pertumbuhan tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sebagaimana dikutip dari DW Indonesia pada Selasa (21/1).

Dalam laporan tersebut, dinyatakan bahwa 1 persen orang terkaya kini menguasai 45 persen kekayaan global, sementara 44 persen populasi dunia hidup dengan kurang dari USD 6,85 (Rp112.031) per hari, dan tingkat kemiskinan global hampir tidak mengalami perubahan sejak tahun 1990.

"Kami menyajikan laporan ini sebagai peringatan keras bahwa orang-orang biasa di seluruh dunia sedang dihancurkan oleh kekayaan yang luar biasa dari segelintir orang," kata Direktur Eksekutif Oxfam, Amitabh Behar.

Orang Kaya Semakin Kaya

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa para triliuner diperkirakan akan semakin banyak muncul dalam sepuluh tahun ke depan, karena kekayaan 10 miliarder teratas tumbuh rata-rata USD 100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun setiap hari selama satu dekade terakhir.

Behar memberikan peringatan bahwa sebuah sistem ekonomi telah terbentuk di mana para miliarder sekarang cukup mampu membentuk kebijakan ekonomi dan sosial, yang pada akhirnya memberikan mereka lebih banyak keuntungan.

Selain itu, laporan itu menunjukkan bahwa satu dari sepuluh perempuan di seluruh dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem, dengan pendapatan kurang dari USD 2,15 (Rp35.174) per hari.

Di samping itu, perempuan juga berkontribusi dengan menyediakan 12,5 miliar jam kerja tidak dibayar setiap harinya, yang berkontribusi sekitar USD 10,8 triliun terhadap ekonomi global, yang mana jumlah ini tiga kali lipat dari nilai industri teknologi global.

Kebijakan yang Diterapkan oleh Donald Trump

Dulu Jadi Donatur Donald Trump di Pilpres, Mark Zuckerberg hingga Elon Musk Justru Kini Rugi USD 1,8 Triliun
Presiden Donald Trump dan CEO Tesla Elon Musk saat duduk di dalam kendaraan Tesla Model S berwarna merah di Halaman Selatan Gedung Putih, Selasa, (11/3/2025). (Dok. Pool via AP) © 2025 Liputan6.com

Dalam laporan Oxfam, Presiden AS Donald Trump juga disebutkan terkait kebijakan-kebijakannya, seperti pemotongan pajak dan deregulasi. Kebijakan-kebijakan ini mendapat kritik karena dianggap dapat memperburuk ketimpangan dan semakin memperkaya para miliarder, termasuk Elon Musk yang merupakan salah satu pendukung utama dalam kampanye pemilihan kembali Trump.

“Permata mahkota oligarki ini adalah seorang presiden miliarder, didukung dan dibeli oleh orang terkaya di dunia, Elon Musk, yang memimpin ekonomi terbesar di dunia,” ungkap Behar.

Di Davos, demonstran berkumpul dengan membawa spanduk yang bertuliskan “kenakan pajak kepada orang kaya” dan “bakar sistem” menjelang pertemuan yang diperkirakan akan membahas strategi ekonomi, kecerdasan buatan, serta konflik global.

Dengan kehadiran setidaknya 3.000 peserta, termasuk para pemimpin dunia dan eksekutif bisnis, acara ini menarik perhatian luas.

Rekomendasi