PT Bank Mandiri (Persero) membukukan laba bersih sebesar Rp 13,8 triliun di akhir triwulan IV-2016. Angka laba ini turun 32,1 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Penurunan laba terjadi karena bank pelat merah ini mencadangkan laba untuk memperkuat posisi pencadangan lebih dari 100 persen menjadi sebesar Rp 24,6 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, meski laba bersih menurun, pihaknya tetap optimistis bahwa bisnis perseroan masih tetap solid karena didukung oleh keberhasilan menurunkan beban bunga sebesar 5 persen secara tahunan, yang didorong oleh kenaikan dana murah, serta efisiensi operasional sehingga menurunkan rasio biaya atas pendapatan (CIR) dari 43,0 persen menjadi 42,39 persen.
Pada akhir tahun lalu, dana murah Bank Mandiri mencapai Rp 489,4 triliun, naik Rp 45,5 triliun atau tumbuh 10,3 persen dibandingkan akhir tahun 2015 sebesar Rp 443,9 triliun. Kenaikan dana murah itu didorong oleh peningkatan tabungan sebesar Rp 30,6 triliun menjadi Rp 302,3 triliun, dan kenaikan giro sebesar Rp 14,9 triliun menjadi Rp 187,1 triliun.
"Kami berharap pencapaian aset sebesar Rp 1.038,7 triliun pada akhir tahun lalu itu akan semakin mendekatkan kami pada peringkat Qualified ASEAN Bank (QAB) yang akan mendukung realisasi ekspansi bisnis perseroan ke regional," tutur Kartika.
Selain itu, Kartika mengatakan pihaknya terus memantapkan peran aktif dalam mendorong laju perekonomian nasional melalui penguatan fungsi intermediasi perbankan. Hingga akhir tahun lalu, perseroan telah menyalurkan kredit sebesar Rp 662,0 triliun atau tumbuh 11,2 persen. Angka tersebut melebihi laju pertumbuhan kredit industri pada periode yang sama, yakni 7,9 persen.
"Dari capaian tersebut, portofolio kredit produktif perseroan tercatat sebesar Rp 507,9 triliun, atau 85,7 persen dari total kredit Bank Mandiri. Dan tumbuh 9,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan jenisnya, kredit modal kerja perseroan tercatat naik 8,8 persen menjadi Rp 323,1 triliun, sedangkan kredit investasi meningkat 10,9 persen menjadi Rp 184,8 triliun," ungkapnya.
Untuk memperkuat konektivitas dan infrastruktur dasar misalnya, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit infrastruktur sebesar Rp 57,3 triliun atau 54,8 persen dari total komitmen yang telah diberikan sebesar Rp 104,6 triliun. Kredit itu disalurkan untuk pembiayaan jalan tol sebesar Rp 14,5 triliun, pembangkit listrik Rp 39,3 triliun, transportasi (bandar udara, pelabuhan, dan kereta api) sebesar Rp 38,2 triliun, dan telekomunikasi sebesar Rp 12,6 triliun.
Kartika menjelaskan, perseroan terus mencatat pertumbuhan positif pada seluruh segmen bisnis, di mana kenaikan terbesar secara nominal terjadi pada segmen corporate banking, yakni Rp 31,5 triliun menjadi Rp 230,3 triliun, dan secara persentase terjadi pada segmen micro banking, yakni 19,1 persen menjadi Rp 50,7 triliun.
Bank Mandiri juga turut menyalurkan pembiayaan khusus dengan skema penjaminan pemerintah, yaitu melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada sepanjang tahun lalu, perseroan menyalurkan KUR sebesar Rp 13,3 triliun, atau 101 persen dari target awal kepada 303.720 debitur. Secara kumulatif, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp 35 triliun sejak pertama kali kepada 770.643 debitur di seluruh Indonesia.
"Kami percaya bahwa untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkesinambungan, kami juga perlu mengantisipasi berbagai risiko usaha yang ada, baik akibat situasi perekonomian domestik maupun global. Untuk itu kami telah meningkatkan alokasi pencadangan menjadi Rp 24,6 triliun pada akhir tahun lalu, dari Rp 12 triliun di tahun 2015," kata Kartika.